Charity with GEMAS VI

Yuk ikutan bantu adik-adik di Manggarai supaya mereka punya gigi yang lebih sehat dan kesadaran untuk merawat kesehatan gigi lebih besar lagi.
Partisipasi kalian begitu berarti untuk mereka 😊

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Maybe it’s only an ordinary souvenir, but your kindness means the world😇

GEMAS VI kembali hadir dg tema berbeda: Peduli Kesehatan Gigi. Dg target 150 anak-anak RW 04,08, dan 09, kegiatan ini turut diisi dg pos permainan edukatif, gerakan sikat gigi bersama, dan bazaar warga dimana keuntungannya akan digunakan untuk operasional PAUD😙😙

Untuk merealisasikannya, kami butuh bantuan teman-teman!💪💪

Teman-teman dapat menyalurkan donasi minimal 25ribu (of course you’re more than welcome to donate more😊) melalui kitabisa.com/GemasVI atau via Mandiri 1240006633797 a.n Yulie Yana Yasmin and let us give you this hand made merchandise from Manggarai Moms. You can confirm your donation to Tati Yuliani (0853 8537 4661)

Because only you who can contribute to create teeth awareness for our generation😄😄

#kitabisa #GEMASVI

View on Path

Inspiring and Be Inspired with Kelas Inspirasi

Pernah dengar tentang Kelas Inspirasi?Sebuah gerakan peduli pendidikan ini mewabah begitu luasnya hampir di seluruh penjuru negeri. Tergelitik untuk mengetahui lebih jauh?

Yuk intip sepenggal cerita dari pengalaman Saya yang berkesempatan ikut Kelas Inspirasi (KI) Jakarta 5 yang berlangsung pada tanggal 2 Mei 2016 lalu bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

“Inspiring and Be Inspired with Kelas Inspirasi” @msmaul https://medium.com/@anahusna/inspiring-and-be-inspired-with-kelas-inspirasi-6d3207979e8

Bitchy Boss? Stay Cool and Kick Ass!

Kadang, kita merasa serba salah dalam pekerjaan. Satu sisi, kita yakin kalau kita memiliki kemampuan. Di sisi lain, atasan gak mendukung dalam pekerjaan. Bahkan, atasan terkesan bertindak dan memperlakukan kita sebagai karyawan dengan sewenang-wenang dan seenaknya.

Kalau udah begini, kita harus bagaimana? Punya atasan menyebalkan itu memang hal yang gak bisa dihindari. Dimanapun kita bekerja, pasti akan ada, paling gak, satu orang atasan yang suka menyalahgunakan wewenangnya untuk menindas karyawan.

Bingung harus bagainana bersikap? Yuk, baca artikel dari link terkait berikut ini.

“Bitchy Boss? Stay Cool and Kick Ass!” @msmaul https://medium.com/@anahusna/bitchy-boss-stay-cool-and-kick-ass-62de89b6bd96

Hotel Agora

Gak terasa, udah tahun baru lagi. Padahal jalan-jalannya udah berbulan-bulan yang lalu, tapi sharing-nya gak selesai-selesai, hihihi :D. Oke, postingan kali ini guw mau share pengalaman tentang hotel tempat menginap selama di Malaysia. Semoga bermanfaat buat kalian yang mungkin mempertimbangkan untuk menginap di tempat yang sama seperti kami ini.

Guw menginap di Agora Hotel yang berlokasi di Bukit Bintang, Malaysia. Kesan pertama sampai di hotel ini adalah… sulit dideskripsikan 😀 Waktu sampai di hotel ini, guw gak langsung menyadari kalau itu adalah hotel yang kami tuju sebelum perempuan yang kami tanya menunjuk pintu masuk hotel yang persis ada disamping kami. Ternyata dia adalah resepsionis di hotel itu.

Sejujurnya hotel ini gak bagus-bagus amat. So, guw pribadi gak akan merekomendasikannya bagi kalian yang mau menginap di tempat yang nyaman dan dalam waktu yang cukup lama. Satu-satunya kelebihan hotel ini adalah lokasinya. Hotel ini dekat dengan Pavilion mall, mono rail station, McDonald’s, 7 eleven, money exchange, dan food street. Oh, hotel ini juga deket sama pub. Jadi mungkin kalian yang suka menikmati hiburan malam, bisa deh mampir disekitar hotel ini.

Kelebihan lainnya mungkin hanya sinyal WiFi yang stabil. Really, I couldn’t find any other good things about this hotel.

Let’s check out the lack list of this hotel. Pertama, elevator yang tersedia untuk tamu hanya 1 dan sangat kecil dengan kapasitas maksimum 6-7 orang (sepertinya). Kalau kamu dapat kamar di lantai 2, pasti langsung diarahkan buat naik tangga. Selain itu letak kamarnya sendiri bisa dibilang aneh dan tidak bersahabat. Gue sendiri dapat kamar di lantai 2 dengan akses yang cukup membingungkan karena harus melewati ruang room services yang tidak tertutup juga dan saat itu sedang ada pekerjanya yang menyetrika pakaian laundry.

Keduafasilitas hotel. Kamarnya cukup besar, kasurnya juga cukup nyaman dengan selimut ala-ala villa di puncak. Satu hal yang perlu diperhatiin adalah kamar mandinya. Kamar mandinya kecil banget! Buat satu orang masuk aja susah, ruang geraknya sangat terbatas walau hanya untuk singing in the shower (baca: mandi). Satu lagi, airnya juga kurang bersih, handuknya pun sedikit bau apek.

Ketiga, sebenarnya ini bukan salah si hotel sih, lebih kepada ketidakberuntungan gue and the girls yang bermalam di tanggal tersebut. Jadi, pada saat itu sedang ada proyek pembangunan MRT, dan lokasi pengerjaan proyeknya persis banget di depan hotel. Alhasil, saat malam hari tiba, udah suara bising karena riuh gaduhnya pub yang ada disekitar hotel, ditambah bunyi peralatan kerja pembangunan MRT. Lengkap guys rangkaian alasan kami gak bisa tidur.

Keempat, sesungguhnya ini yang agak bikin gue kurang nyaman among all of those previous lacks. Karena hotel ini deket dari tempat hiburan malam, hotel ini jadi pilihan hotel untuk  one night stand. Jadi, jangan kaget kalau malam-malam balik ke hotel habis kulineran ketemu banyak pasangan sedikit mabuk atau tampak mesra di lift. Senyumin aja 🙂

Anyway, kalau kalian terpikir untuk early check-in, kalian harus siap dikenakan charge sekitar IDR 300.000,-. Dan, kalau password wifi yang diberikan saat check-in hilang, pastiin kalian udah bayar biaya early check-in-nya. Karena kalau belum password wifi-nya gak akan dikasih.

That’s a wrap for hotel review guys. Hope you all enjoy it, and.. Happy holiday lads!

*Maaf banget gak ada foto dari hotel ini yang bisa di-share, karena gue udah males banget sama kondisi real kamarnya. So, langsung aja cek link yang ada di artikel ya. Thank you!

Chapter Four – Hello Twin Tower!

DSC_0625

 

16 Mei 2015 – Sekitar pukul 2 am, guw dan the girls sampai di Bukit Bintang, Malaysia. Kami memutuskan untuk pergi ke Malaysia via jalur darat dengan naik bus KLIA yang berangkat dari meeting point Tanjong Katong Complex, Singapore. Busnya? Totally recommended!! Shall you need further information, bisa langsung cek KKKL Singapore. Bisa langsung pesan online maupun cek jadwal keberangkatan bus. Oke, mari beralih dari urusan bus.
Jadi, ceritanya kami sampai TKP sekitar dua jam lebih awal dari yang dijadwalkan.

Lumayan merusak itinerary yang udah disusun dari Jakarta, tapi ya mau gimana lagi kan. Alhasil, kami berempat merapat ke 7 eleven terdekat dengan tampilan muka bantal, bawa-bawa koper, kedinginan, dan masih ngantuk. Ya iya lah ya kedinginan dan masih ngantuk, saat itu masih dini hari dan kami gak di negara sendiri! Berbeda dari Singapore, rasa tengah malam di Malaysia terasa lebih ‘spooky’. Selama di Singapore kami sering ada di luar hotel sampai tengah malam, tapi merasa aman-aman aja. We
didn’t know why
. Tapi, bukan berarti disini rawan kejahatan ya 🙂

Setelah nunggu sekitar dua jam, dengan salah satu teman guw yang udah sampe nenggak tolak angin, ditambah nanya beberapa orang sekitar gak banyak dapat informasi tentang lokasi masjid atau mushalla terdekat. Jadilah kami memutuskan untuk nunggu di hotel yang sudah kami pesan dengan harapan siapa tahu bisa early check-in. Nah, pas mau nai
k taksi dari Berjaya Square ini, rada drama sama supir taksi yang pada mangkal dan sudah menawarkan jasa transportasinya sejak kami turun bus. Warning banget, hati-hati dengan tarif taksinya, karena walaupun taksinya tertulis Taksi Bermeter, sebagian besar dari mereka gak pake itu dan langsung kasih harga yang bisa dibilang gak masuk akal. Percayalah.

Hal ini kejadian waktu guw yang ditemani salah satu temen guw mau cari taksi. Kami sepakat untuk gak pake jasa taksi yang mangkal disana setelah menyempatkan diri tanya-tanya berapa tarif yang mereka kasih. And you know what? They said, “MYR 300 for ride to Agora Hotel, Bukit Bintang.” Insane! Padahal, itu letak hotel hanya satu blok dari Berjaya Square kalau ditempuh dengan jalan kaki (ternyata). Jalanannya memang agak sedikit memutar karena sedang ada pembangunan MRTdisana. Kebayang kan seberapa sembarangannya itu supir kasih argonya. Jadi, sebaiknya berhentiin aja taksi yang lewat dan tanya mereka jalanin argonya atau gak. Kalau pakai argo, bisa langsung naik dan make sure mesin argonya jalan. Kalau gak, say sorry, let them go, and find the other one. Walau dini hari, gak begitu sulit kok dapat taksi di sini. Perlu diketahui juga, supir-supirnya agak maksa dan sedikit galak, jadi kita mesti sabar-sabar deh supaya bisa dapet taksi yang sesuai keinginan. Jika dibandingin sama armada taksi di Jakarta, nampaknya kita masih lebih unggul, baik dari segi kendaraan, fasilitas, maupun pelayanan supir khususnya. Bisa juga baca artikel terkait KL taxi drivers as worst in the world dan Taksi Malaysia Dinobatkan sebagai yang Terburuk di Dunia.

Sesampainya di Agora Hotel, kami langsung ketemu sama resepsionisnya di luar pintu masuk hotel. Sesungguhnya, hotel ini agak diluar ekspektasi kami berempat sih, dan sejujurnya ini dipilih pun karena waktu mau dipesan hotel ini rate-nya yang paling murah. Mengingat kami berempat hanya semalam di Malaysia, diputuskanlah untuk gak menginap di hotel yang mahal. Ulasan tentang hotel ini menyusul di postingan selanjutnya ya 😀

Harapan untuk bisa early check-in pupus karena ternyata gak bisa. Bisa sih, tapi ada extra charge lagi. Lalu, kami pun memutuskan untuk nunggu diluar hotel setelah titip koper di hotel dan beranjak ke KFC yang menjadi satu-satunya tempat buat duduk yang buka dan dekat dari hotel. Ceritanya sih pingin nunggu disini sambil sarapan dan istirahat sejenak menunggu waktu check-in. Tapi nih, berhubung salah satu temen guw udah uring-uringan capek dan mulai merasakan gejala flu, akhirnya kami berempat sepakat untuk early check-in. 

Setelah early check-in istirahat yang cukup, guw and the girls bergegas untuk menyambangi icon Negeri Jiran itu. Yeap, it must be Twin Tower Petronas. Agenda utama kami berempat selama di Malaysia adalah mengunjungi Menara Petronas dan Batu Caves. Sesungguhnya hanya dua tempat itu aja yang kita jadikan a-place-to-go-list. Selain karena gak banyak tertarik sama spot wisata disana, waktu kami juga terbatas, hanya hitungan jam aja. Kejar-kejaran sama waktu take-off ke Bangkok.

Untuk mencapai Menara Petronas, kita bisa manfaatin bus KLIA. It’s for free for sure. Waktu guw kesana itu pas hari kerja, dan ternyata gak beda sama Jakarta, macet juga. Tapi tenang, bus nya nyaman kok, AC nya terasa, selain itu juga bersih. Untuk yang satu ini, bus yang ada di Jakarta bisa dibilang kalah saing lah ya, bahkan TransJakarta aja hanya di jalur tertentu aja yang terawat dengan baik. Satu keuntungan lain berkunjung ke negara tetangga yang serumpun ya sudah pasti kita gak terlalu mengalami kesulitan komunikasi, karena bahasa yang digunakan mirip-mirip bahasa melayu di Indonesia. Jadi, kita gak perlu melulu pakai bahasa Inggris kok untuk nanya warga setempat ke arah mana tujuan kita.

DSC_0597

Sebelum mengabadikan moment Menara Petronas, guw and the girls memutuskan untuk numpang ngadem dulu di Suria KLCC mengingat cuaca panas dan matahari cukup terik ketika kami sampai. Setelah muter-muter di mall dan merasa cukup tenaga lagi untuk menghadapi panas kami langsung DSC_0608bergegas ke icon Malaysia ini. Menara Petronas itu… ternyata ya hanya sebuah gedung di kawasan perkantoran atau bisa dikenal juga business district. Gedung ini dilengkapi dengan mall dan galeri Petronas didalamnya. Jadi, kalau kalian susah move on dari yang namanya mall, aman lah. Galeri Petronas-nya juga menarik buat dikunjungi, bagian paling menariknya itu yang memamerkan F1 world-nya. Nah, kalau mau masuk kesini, kalian harus titip tas kalian di petugas pintu masuk, walaupun sebenarnya gak ada yang bisa dibawa pulang juga sih di dalam sana. 😀
Menurut guw pribadi sih, there’s nothing really interesting nor special about Menara Petronas but the architecture. That’s all. Karena berlokasi di kawasan bisni, rasanya sama aja kalau kita lagi lewatin kawasan Mega Kuningan lalu lihat hotel JW Marriott maupun gedung Oakwood atau melintasi SCBD Sudirman lalu lihat Hotel Ritz Carlton & One Pacific Place 🙂 Untuk bisa dapetin foto dengan latar belakang Menara Petronas juga gak semudah yang dikira, selain karena butuh effort nyari angle yang pas, kalau waktu kunjungannya gak pas itu udah pasti dipenuhi para wisatawan. Kira-kira itu pengalaman guw and the girls. Well, at least we got one, thanks to technology called front-camera!

DSC_0675

DSC_0674Catatan selama disini, kondisi traffic di Bukit Bintang atau Kuala Lumpur gak terlalu beda jauh sama Jakarta, sama-sama macet. Jadi, using public transportation is the best choice. Kalau gak terlalu urgent atau perlu-perlu amat, sebaiknya naik transportasi umum aja. Public transportation di Malaysia juga mudah kok akses dan penggunaannya. Taksi disini gak terlalu direkomendasikan. Satu lagi, disini juga panas! Make sure you have sunscreen in your travel bag!

Chapter Three – Love in Clarke Quay and Coffee

DSC_0533

14 Mei 2015 – Hari terakhir guw di Singapore ini dimulai dengan perjuangan salah satu temen guw buat minta air panas ke pihak hotel pas jam sarapan. Another hoax plan happened at this morning. Malam sebelumnya setelah main monopoli, kita sepakat buat berangkat dari hotel jam 9 pagi. Karena tujuan kita adalah mengunjungi Orchard Boulevard alias ngemol dan singgah ke beberapa museum yang bisa didatangi tanpa bayar dan searah ke Clarke Quay. Pokoknya, kita berempat bener-bener atur jadwal supaya bisa bikin statement, “at least, we’ve been here!”  DSC_0534Destinasi pertama guw adalah National Museum of Singapore. Ini museum gak jauh dari hotel tempat kami menginap. Untuk bisa ke museum ini, kita berempat tinggal naik bus ke arah Orchard Boulevard. Kebetulan guw lupa nih turunnya di bus stop mana. Hehehe, tapi yang jelas gak terlalu jauh kok.

Begitu sampai di Orchard Boulevard, gak ada destinasi lain selain shopping spot. Karena disini pusat perbelanjaan, mulai dari bDSC_0564rand lokal sampai brand paling high end sekelas LV, Chanel, Burberry, dan masih banyak lagi. Pokoknya kanan kiri sejauh mata memandang itu ya mall 😀 Berhubung cuaca lagi panas-panasnya, alhasil guw dan ketiga temen guw memutuskan untuk window shopping sekalian ngadem. Setelah masuk H&M dan beberapa store lain, guw dan temen-temen memutuskan ke 313@Somerset. Disini kita jajan! Salah satu temen guw beli crispy mushroom dan crispy squid. Taste good, dan menurut pengakuan temen guw harganya juga murah 🙂 Selain itu, kami juga nyoba salah yogurt yang kabarnya lagi hits banget di Singapore, namanya llaollao natural frozen yogurt. Kami beli ukuran medium dengan 3 topping, pineapple, kiwi, and almondIt tasted sooooooo yummy! So worth it to buy. Topping buah-buahannya punya potongan yang sangat memuaskan hati. Dan guw penggemar berat nanas! It is summer, baby! Frozen yogurt is kill it. Pokoknya gak nyesel deh beli yogurt ini, cukup kok buat sharing berdua, bahkan berempat seperti guw dan temen-temen. Tapi, kebetulan dua orang temen guw not that excited about yogurt, jadilah guw dan satu temen guw yang asyik ngunyahin yogurt. Keunggulan lain jajan di Level B3 313@Somerset ini, selain karena banyak pilihan jajanan menarik dengan harga variatif, tempat duduk yang menarik dan lucu, ada juga free wifi. 😀 Jadi, kalian bisa stay updated deh di social media.

DSC_0579

Setelah resmi menjejakkan kaki di Orchard dan puas jajan di Somerset, guw and the girls bDSC_0567ergegas melanjutkan perjalanan ke Clarke Quay. Demi pencitraandan tercapainya itinerary yang udah kita buat 😀 Dari sini kita bisa naik MRT dan transit di Dhoby Ghaut lalu turun di Clarke Quay. FYI, Clarke Quay ini juga wujudnya seperti kawasan belanja dan lifestyle. Salah satukeunikannya mungkin adalah dengan adanya satu spot khusus gembok cinta alias Locks of Love. Nah, gak perlu jauh-jauh ke Eropa atau Korea deh ya buat menggembok cinta sama pasangan, negara tetangga juga ada 😀 Gak bawa gemboknya? Jangan sedih, ada mesinnya kok, jadi tinggal beli di mesin otomatis ini.

DSC_0569

Selesai foto-foto dan istirahat sejenak, guw dan ketiga temen guw jalan memutari si Clarke Quay ini. Nah, karena disini memang tempat nongkrong, jadi banyak tempat atau cafe yang tutup pas kita dateng. Overall, gak ada yang istimewa disini. Kalau boleh jujur, malah masih lebih bagus Mall Central Park deh. Selain konsep go green nya dapet, tempat nongkrongnya juga asyik, dan gak kalah rapi dan bersih. Pada akhirnya, karena bener-bener gak ada tempat yang menarik lagi dan kebetulan udah terlalu kangen nih sama Starbucks, jadilah kami berempat menjejakkan kaki di Starbucks Clarke Quay. Gagal move on! 😀

Catatan selama hari ini, seriously, there’s nothing really special about Singapore but clean and modern. That’s all. But, the public transportation is really the best! You won’t think that’s too difficult using public transportation while you’re in Singapore. Jadi, kalau ke Singapore itu yang paling bener buat menikmati tempat-tempat yang super modern, artistic, dan sophisticated. So, you need not much time to know and explore Singapore. Enjoy! 🙂