The Book of Questions: Answer #2

Buku The Book of Questions ini memang sangat menarik. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terlintas dipikiran Saya selama ini, termasuk pertanyaan yang akan Saya bagikan pada postingan kali ini.

Q: “Amnesia comes in two forms: one in which you lose your memory of past events, another in which you no longer form new memories. If you took a bad fall and were to suffer one or the other, which would be worse?

Dan jawaban Saya adalah…

A: Sebagian orang akan berpikir kalau kedua pilihan tersebut terasa mengerikan. Saya pun berpikir demikian. Bagaimana tidak, walaupun ada kenangan pahit, tapi masa lalu selalu menyimpan kenangam manis yang selalu ingin Anda kenang sepanjang masa. Tidak dapat mengingat moment tertentu menjadi sebuah kenangan baru tentu juga hal yang mengerikan. Bayangkan saja kalau kita tidak lagi dapat mengenang keseruan girls time bersama sahabat kita. Atau, kesenangan saat berlibur bersama keluarga, atau bahkan hal-hal kecil nan berarti yang baru saja dilakukan bersama pasangan Anda. Membayangkannya saja sudah sedih, ya kan?

Tapi, bagi Saya kehilangan ingatan atau memori masa lalu masih terasa lebih baik daripada tidak memiliki kesempatan untuk membuat kenangan-kenangan baru. Kenapa?

Saya bukan anggota jajaran manusia dengan sejuta kenangan manis atau bahagia di masa lalu. Masa lalu menimbulkan banyak luka dan cerita yang bagi Saya bukan suatu hal yang benar-benar ingin Saya kenang. 

Hasil tes kepribadian Saya juga menunjukkan Saya termasuk tipe orang yang fokus pada masa sekarang. Bukan masa depan, apalagi masa lalu. Dan pula, seseorang pernah menasihati Saya yang terus Saya ingat, “Masa lalu adalah tujuan yang paling jauh untuk dicapai, dan itu sangat menguras tenaga dan perasaan.” Guess what? Saya sangat setuju! Anda?

Kenangan baru selalu dapat kita buat bersama orang-orang terdekat dan terkasih, kapanpun dan dimanapun. Bagi Saya, no longer form new memories itu sangat menyedihkan. Hidup selalu membawa kejutan disetiap menitnya, Saya lebih memilih untuk dapat terus mengingat hal-hal baru yang Saya alami. Karena satu atau dua  tahun kemudian, hal tersebut dapat Saya kenang kembali.

Ini jawaban Saya. Anda?

I’ll see you on the next Q&A!
 
Question was picked and taken from Stock, Gregory: The Book Of Questions, 2013, Workman Publishing.

Advertisements

Belum punya anak, mimpi punya anak.
Ingin punya anak, usaha punya anak.
Begitu punya anak, suka habis kesabaran sama anak.

Kekerasan pada anak itu gak cuma serangan fisik, tapi bicara dengan nada tinggi dan membentak juga merupakan kekerasan.
Dan mereka ingat itu sampai mereka tua.

Violence marks forever.
A good reminder and campaign by #unicef in collaboration with David Beckham.
Full video: https://www.instagram.com/p/BNo8RnBAkBG/

View on Path

Jemu dengan musik masa kini yang terlalu komersil? Mungkin Huhu dan Popo bisa menjawabnya.

Sebuah kolaborasi sederhana dengan makna yang tak sederhana.
Come and join the vibe, you’ll find the different. Meet Huhu dan Popo at #paviliun28.

Mark the date!
Sabtu, 4 Juni 2016
Jam 19:00 -selesai

👯Ajak sahabat dan jadikan weekend kalian begitu special.
💏Ajak kekasih dan jadikan weekend kalian lebih istimewa.
💬Sebarkan poster, biarkan meluas dan menjaring mereka yang haus akan musik baru.

Sampai bertemu disana, bergembira dengan musik sederhana yang tak biasa bersama Huhu dan Popo.

#huhudanpopo #somethinggood #goodmusic #goodmusic4life #folksong #simplemusic #specialevent #music #folk – with Dayat

View on Path

Hotel Agora

Gak terasa, udah tahun baru lagi. Padahal jalan-jalannya udah berbulan-bulan yang lalu, tapi sharing-nya gak selesai-selesai, hihihi :D. Oke, postingan kali ini guw mau share pengalaman tentang hotel tempat menginap selama di Malaysia. Semoga bermanfaat buat kalian yang mungkin mempertimbangkan untuk menginap di tempat yang sama seperti kami ini.

Guw menginap di Agora Hotel yang berlokasi di Bukit Bintang, Malaysia. Kesan pertama sampai di hotel ini adalah… sulit dideskripsikan 😀 Waktu sampai di hotel ini, guw gak langsung menyadari kalau itu adalah hotel yang kami tuju sebelum perempuan yang kami tanya menunjuk pintu masuk hotel yang persis ada disamping kami. Ternyata dia adalah resepsionis di hotel itu.

Sejujurnya hotel ini gak bagus-bagus amat. So, guw pribadi gak akan merekomendasikannya bagi kalian yang mau menginap di tempat yang nyaman dan dalam waktu yang cukup lama. Satu-satunya kelebihan hotel ini adalah lokasinya. Hotel ini dekat dengan Pavilion mall, mono rail station, McDonald’s, 7 eleven, money exchange, dan food street. Oh, hotel ini juga deket sama pub. Jadi mungkin kalian yang suka menikmati hiburan malam, bisa deh mampir disekitar hotel ini.

Kelebihan lainnya mungkin hanya sinyal WiFi yang stabil. Really, I couldn’t find any other good things about this hotel.

Let’s check out the lack list of this hotel. Pertama, elevator yang tersedia untuk tamu hanya 1 dan sangat kecil dengan kapasitas maksimum 6-7 orang (sepertinya). Kalau kamu dapat kamar di lantai 2, pasti langsung diarahkan buat naik tangga. Selain itu letak kamarnya sendiri bisa dibilang aneh dan tidak bersahabat. Gue sendiri dapat kamar di lantai 2 dengan akses yang cukup membingungkan karena harus melewati ruang room services yang tidak tertutup juga dan saat itu sedang ada pekerjanya yang menyetrika pakaian laundry.

Keduafasilitas hotel. Kamarnya cukup besar, kasurnya juga cukup nyaman dengan selimut ala-ala villa di puncak. Satu hal yang perlu diperhatiin adalah kamar mandinya. Kamar mandinya kecil banget! Buat satu orang masuk aja susah, ruang geraknya sangat terbatas walau hanya untuk singing in the shower (baca: mandi). Satu lagi, airnya juga kurang bersih, handuknya pun sedikit bau apek.

Ketiga, sebenarnya ini bukan salah si hotel sih, lebih kepada ketidakberuntungan gue and the girls yang bermalam di tanggal tersebut. Jadi, pada saat itu sedang ada proyek pembangunan MRT, dan lokasi pengerjaan proyeknya persis banget di depan hotel. Alhasil, saat malam hari tiba, udah suara bising karena riuh gaduhnya pub yang ada disekitar hotel, ditambah bunyi peralatan kerja pembangunan MRT. Lengkap guys rangkaian alasan kami gak bisa tidur.

Keempat, sesungguhnya ini yang agak bikin gue kurang nyaman among all of those previous lacks. Karena hotel ini deket dari tempat hiburan malam, hotel ini jadi pilihan hotel untuk  one night stand. Jadi, jangan kaget kalau malam-malam balik ke hotel habis kulineran ketemu banyak pasangan sedikit mabuk atau tampak mesra di lift. Senyumin aja 🙂

Anyway, kalau kalian terpikir untuk early check-in, kalian harus siap dikenakan charge sekitar IDR 300.000,-. Dan, kalau password wifi yang diberikan saat check-in hilang, pastiin kalian udah bayar biaya early check-in-nya. Karena kalau belum password wifi-nya gak akan dikasih.

That’s a wrap for hotel review guys. Hope you all enjoy it, and.. Happy holiday lads!

*Maaf banget gak ada foto dari hotel ini yang bisa di-share, karena gue udah males banget sama kondisi real kamarnya. So, langsung aja cek link yang ada di artikel ya. Thank you!

Chapter Four – Hello Twin Tower!

DSC_0625

 

16 Mei 2015 – Sekitar pukul 2 am, guw dan the girls sampai di Bukit Bintang, Malaysia. Kami memutuskan untuk pergi ke Malaysia via jalur darat dengan naik bus KLIA yang berangkat dari meeting point Tanjong Katong Complex, Singapore. Busnya? Totally recommended!! Shall you need further information, bisa langsung cek KKKL Singapore. Bisa langsung pesan online maupun cek jadwal keberangkatan bus. Oke, mari beralih dari urusan bus.
Jadi, ceritanya kami sampai TKP sekitar dua jam lebih awal dari yang dijadwalkan.

Lumayan merusak itinerary yang udah disusun dari Jakarta, tapi ya mau gimana lagi kan. Alhasil, kami berempat merapat ke 7 eleven terdekat dengan tampilan muka bantal, bawa-bawa koper, kedinginan, dan masih ngantuk. Ya iya lah ya kedinginan dan masih ngantuk, saat itu masih dini hari dan kami gak di negara sendiri! Berbeda dari Singapore, rasa tengah malam di Malaysia terasa lebih ‘spooky’. Selama di Singapore kami sering ada di luar hotel sampai tengah malam, tapi merasa aman-aman aja. We
didn’t know why
. Tapi, bukan berarti disini rawan kejahatan ya 🙂

Setelah nunggu sekitar dua jam, dengan salah satu teman guw yang udah sampe nenggak tolak angin, ditambah nanya beberapa orang sekitar gak banyak dapat informasi tentang lokasi masjid atau mushalla terdekat. Jadilah kami memutuskan untuk nunggu di hotel yang sudah kami pesan dengan harapan siapa tahu bisa early check-in. Nah, pas mau nai
k taksi dari Berjaya Square ini, rada drama sama supir taksi yang pada mangkal dan sudah menawarkan jasa transportasinya sejak kami turun bus. Warning banget, hati-hati dengan tarif taksinya, karena walaupun taksinya tertulis Taksi Bermeter, sebagian besar dari mereka gak pake itu dan langsung kasih harga yang bisa dibilang gak masuk akal. Percayalah.

Hal ini kejadian waktu guw yang ditemani salah satu temen guw mau cari taksi. Kami sepakat untuk gak pake jasa taksi yang mangkal disana setelah menyempatkan diri tanya-tanya berapa tarif yang mereka kasih. And you know what? They said, “MYR 300 for ride to Agora Hotel, Bukit Bintang.” Insane! Padahal, itu letak hotel hanya satu blok dari Berjaya Square kalau ditempuh dengan jalan kaki (ternyata). Jalanannya memang agak sedikit memutar karena sedang ada pembangunan MRTdisana. Kebayang kan seberapa sembarangannya itu supir kasih argonya. Jadi, sebaiknya berhentiin aja taksi yang lewat dan tanya mereka jalanin argonya atau gak. Kalau pakai argo, bisa langsung naik dan make sure mesin argonya jalan. Kalau gak, say sorry, let them go, and find the other one. Walau dini hari, gak begitu sulit kok dapat taksi di sini. Perlu diketahui juga, supir-supirnya agak maksa dan sedikit galak, jadi kita mesti sabar-sabar deh supaya bisa dapet taksi yang sesuai keinginan. Jika dibandingin sama armada taksi di Jakarta, nampaknya kita masih lebih unggul, baik dari segi kendaraan, fasilitas, maupun pelayanan supir khususnya. Bisa juga baca artikel terkait KL taxi drivers as worst in the world dan Taksi Malaysia Dinobatkan sebagai yang Terburuk di Dunia.

Sesampainya di Agora Hotel, kami langsung ketemu sama resepsionisnya di luar pintu masuk hotel. Sesungguhnya, hotel ini agak diluar ekspektasi kami berempat sih, dan sejujurnya ini dipilih pun karena waktu mau dipesan hotel ini rate-nya yang paling murah. Mengingat kami berempat hanya semalam di Malaysia, diputuskanlah untuk gak menginap di hotel yang mahal. Ulasan tentang hotel ini menyusul di postingan selanjutnya ya 😀

Harapan untuk bisa early check-in pupus karena ternyata gak bisa. Bisa sih, tapi ada extra charge lagi. Lalu, kami pun memutuskan untuk nunggu diluar hotel setelah titip koper di hotel dan beranjak ke KFC yang menjadi satu-satunya tempat buat duduk yang buka dan dekat dari hotel. Ceritanya sih pingin nunggu disini sambil sarapan dan istirahat sejenak menunggu waktu check-in. Tapi nih, berhubung salah satu temen guw udah uring-uringan capek dan mulai merasakan gejala flu, akhirnya kami berempat sepakat untuk early check-in. 

Setelah early check-in istirahat yang cukup, guw and the girls bergegas untuk menyambangi icon Negeri Jiran itu. Yeap, it must be Twin Tower Petronas. Agenda utama kami berempat selama di Malaysia adalah mengunjungi Menara Petronas dan Batu Caves. Sesungguhnya hanya dua tempat itu aja yang kita jadikan a-place-to-go-list. Selain karena gak banyak tertarik sama spot wisata disana, waktu kami juga terbatas, hanya hitungan jam aja. Kejar-kejaran sama waktu take-off ke Bangkok.

Untuk mencapai Menara Petronas, kita bisa manfaatin bus KLIA. It’s for free for sure. Waktu guw kesana itu pas hari kerja, dan ternyata gak beda sama Jakarta, macet juga. Tapi tenang, bus nya nyaman kok, AC nya terasa, selain itu juga bersih. Untuk yang satu ini, bus yang ada di Jakarta bisa dibilang kalah saing lah ya, bahkan TransJakarta aja hanya di jalur tertentu aja yang terawat dengan baik. Satu keuntungan lain berkunjung ke negara tetangga yang serumpun ya sudah pasti kita gak terlalu mengalami kesulitan komunikasi, karena bahasa yang digunakan mirip-mirip bahasa melayu di Indonesia. Jadi, kita gak perlu melulu pakai bahasa Inggris kok untuk nanya warga setempat ke arah mana tujuan kita.

DSC_0597

Sebelum mengabadikan moment Menara Petronas, guw and the girls memutuskan untuk numpang ngadem dulu di Suria KLCC mengingat cuaca panas dan matahari cukup terik ketika kami sampai. Setelah muter-muter di mall dan merasa cukup tenaga lagi untuk menghadapi panas kami langsung DSC_0608bergegas ke icon Malaysia ini. Menara Petronas itu… ternyata ya hanya sebuah gedung di kawasan perkantoran atau bisa dikenal juga business district. Gedung ini dilengkapi dengan mall dan galeri Petronas didalamnya. Jadi, kalau kalian susah move on dari yang namanya mall, aman lah. Galeri Petronas-nya juga menarik buat dikunjungi, bagian paling menariknya itu yang memamerkan F1 world-nya. Nah, kalau mau masuk kesini, kalian harus titip tas kalian di petugas pintu masuk, walaupun sebenarnya gak ada yang bisa dibawa pulang juga sih di dalam sana. 😀
Menurut guw pribadi sih, there’s nothing really interesting nor special about Menara Petronas but the architecture. That’s all. Karena berlokasi di kawasan bisni, rasanya sama aja kalau kita lagi lewatin kawasan Mega Kuningan lalu lihat hotel JW Marriott maupun gedung Oakwood atau melintasi SCBD Sudirman lalu lihat Hotel Ritz Carlton & One Pacific Place 🙂 Untuk bisa dapetin foto dengan latar belakang Menara Petronas juga gak semudah yang dikira, selain karena butuh effort nyari angle yang pas, kalau waktu kunjungannya gak pas itu udah pasti dipenuhi para wisatawan. Kira-kira itu pengalaman guw and the girls. Well, at least we got one, thanks to technology called front-camera!

DSC_0675

DSC_0674Catatan selama disini, kondisi traffic di Bukit Bintang atau Kuala Lumpur gak terlalu beda jauh sama Jakarta, sama-sama macet. Jadi, using public transportation is the best choice. Kalau gak terlalu urgent atau perlu-perlu amat, sebaiknya naik transportasi umum aja. Public transportation di Malaysia juga mudah kok akses dan penggunaannya. Taksi disini gak terlalu direkomendasikan. Satu lagi, disini juga panas! Make sure you have sunscreen in your travel bag!