Arbeitsleben – One

Berbulan-bulan sudah saya tidak meluangkan waktu untuk singgah di blog ini, rasanya rindu! Menjelang penutup tahun 2017 dan setelah mengalami beragam drama kehidupan, khususnya di kantor, saya jadi tertarik untuk berbagi beberapa cerita drama para profesional, baik yang muda maupun senior, di lingkungan kerja.

Kenapa saya tertarik? Ya… sharing is fun, that’s the first reason. Alasan lainnya adalah teruntuk siapapun yang sedang terjebak kondisi seperti yang pernah saya alami dan belum tahu harus berbuat, mungkin seri Arbeitsleben (working life) ini bisa membantu. 🙂

***

“Instead of keep busy to please everyone, show them your attitude and capability. Work is a professional thing.”

Sadar atau tidak, kebanyakan orang tidak menjadi dirinya sendiri saat sedang berada di kantor. Beberapa orang menjaga atau dengan sengaja membuat citra diri mereka dengan menerapkan images yang menurut mereka akan disukai di kantor. Beberapa orang lainnya bahkan being such a jerk hanya demi mencari aman atau memenuhi ambisi mereka dalam perjalanan karirnya.

Pertama, penampilan. Seringkali saat beberapa rekan kerja perempuan yang saya kenal baik mengenakan rok dengan panjang yang tidak melebihi lutut ditambah kemeja body fit membuat mereka dijadikan bahan rumpi satu kantor. Mulai dari komentar baju yang terlalu ketat, sok seksi karena pakai rok pendek, bahkan tak jarang komentar yang dilontarkan menyerang fisik mereka. Apalagi kalau ditambah high heels, komentarnya makin lengkap, “tinggi banget sepatunya, padahal cuma kerja ke kantor doang.” (Padahal baju dan sepatunya dibeli pakai uang sendiri 😦 )

Beberapa rekan kerja perempuan lainnya yang mengenakan jilbab saat bekerja di kantor pun tak luput dari komentar, atau bahasa-Indonesia-yang-tidak-bakunya kena nyinyir. Mengenakan baju gamis atau rok lebar dan jilbab panjang, dibilang terkesan fanatik. Mengenakan baju dan celana body fit dapat komentar pakai jilbab tapi penampilannya memperlihatkan lekuk tubuh. Pakai baju yang dianggap normal tapi kain jilbabnya tipis dihadiahi komentar jilbabnya tipis sekali sampai menerawang begitu. (Terus harus gimana kalau begini salah begitu salah? 😦 )

Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk tampil biasa saja bahkan rela mengenakan jilbab di kantor saat hal tersebut belum menjadi bagian dalam kesehariannya di luar kantor, dan itu mereka lakukan hanya demi menghindari diri menjadi bahan gosip biang rumpi. 😦 Perlu kah?

Menjaga penampilan memang perlu, karena bagaimana pun juga saat kita bekerja, kita akan bertemu dengan banyak orang. Penampilan karyawan/karyawati juga merupakan image perusahaan. Jadi, untuk penampilan, tidak ada salahnya menjadi diri sendiri namun tetap perlu menyesuaikan diri jika diperlukan. Apa mungkin ada agenda dengan salah satu direksi di kantor kita pakai polo shirt dan sepatu Converse kesayangan yang sudah sangat lusuh? Kalau kata Mama saya, selalu ada etika yang perlu dipertimbangkan bahkan dalam hal berpakaian. 🙂

Apabila kantor tempat kalian bekerja memiliki seragam, kenakanlah pada waktu yang seharusnya. Jika merasa kurang nyaman mengenakannya saat berangkat/pulang kerja, kenakan jaket atau bawa pakaian salin. Bila kantor memiliki dress code pada hari-hari tertentu, patuhilah dan kenakan pakaian yang sesuai karakter kalian dihari lain namun tanpa melupakan kepantasan. Pakai blazer yang dipadupadankan dengan celana pendek tentu bukan gaya yang lazim di Indonesia. Ingat baik-baik bahwa kita bekerja di Indonesia, bukan di dalam drama Korea. 😀

Kedua, lingkaran pertemanan. Banyak juga orang yang bersedia menjadi seorang yes man hanya demi dianggap teman oleh atasan, atau rela menjadi hedon demi masuk ke dalam lingkaran orang-orang yang dianggap paling keren sekantor. Tak sedikit orang yang menyanggupi diri untuk bersikap baik pada siapa pun, terkadang fake kepada orang yang tidak disukai, dengan mengerjakan semua pekerjaan (yang menjadi tugasnya atau tidak) hanya demi terlihat baik dan pekerja keras. Bahkan, ada yang tega memperlakukan orang lain layaknya teman baik hanya untuk dimanfaatkan atau sekedar tidak enak hati karena orang tersebut merupakan kenalan temannya. (Ada yang pernah mengalami salah satunya? Atau mungkin semuanya? 😀 )

Saya rasa setiap orang bekerja pernah mengalami paling tidak satu diantara kenyataan di lingkungan kerja dalam hal pertemanan, termasuk saya. Lantas apa kita harus menjauh sampai akhirnya tidak punya teman?

Well first rule, instead of keep busy to please everyone, show them your attitude and capability. Work is a professional thing. Hal yang harus selalu kita ingat dengan baik adalah bahwa bekerja bukan soal membuat orang lain menyukai kita. Sekeras apa pun usaha kita untuk disukai oleh banyak orang, pada akhirnya usaha tersebut akan sirna apabila kita tidak menunjukkan perilaku dan kemampuan terbaik kita. Contohnya, kita seringkali mengalah pada rekan kerja dan mengerjakan seluruh pekerjaan yang menjadi maupun bukan tugas kita, tapi lalu dihakimi serta dianggap tidak bisa bekerja hanya karena miskomunikasi yang bahkan mungkin bukan kesalahan kita. Sia-sia kan?

Second rule, you cannot please everyone because there’s always somebody that’ll dislike or even hate you. Sekali lagi, bekerja itu bukan ajang untuk sekedar mencari teman/networking, tapi ajang menunjukkan kemampuan dan nilai diri kita. Membuktikan bahwa kita mampu mengerjakan apa pun tugas yang diberikan itu penting, tapi hal tersebut tentu tidak selalu sesuai dengan keinginan orang lain, bukan? Misalnya saja, apa perlu menuruti keinginan atasan yang mau menggunakan dana operasional acara perusahaan untuk kepentingan pribadi dan dilaporkan sebagai pengeluaran perusahaan hanya demi dianggap sebagai orang kepercayaan atasan dan meraih semua janji manis atasan yang bahkan belum tentu ditepati? Bagi saya pribadi, hal tersebut tidak layak untuk dilakukan dibanding risiko kerugian yang nantinya akan kita hadapi di kemudian hari.

The point is, apa pun pekerjaan kita, menunjukkan karakter diri dan bersikap tegas itu penting. Suka tidak suka, percaya tidak percaya, tidak semua orang dewasa itu baik apalagi di lingkungan kerja. Devil once is an Angel! This is life, not a fairy tale. Jika tidak bisa menjadi seorang pemimpin, maka paling tidak jangan jadi follower yang selalu ikut kemana angin berhembus. Jadilah diri anda sendiri. Lalu tegaslah dalam bersikap. Dalam urusan pekerjaan pastikan apa yang menjadi tugas pokok kita, sampaikan dengan baik bila ada perbedaan pemahaman dalam eksekusi pekerjaan, dan bekerjalah sesuai porsi tugas dan waktu. Don’t be a yes man and be fake all the time, it’s totally tiresome! 😉

***

-ahsna-
Advertisements

The Book of Questions: Answer #1

It’s been such a very loooooong time no write, and I kinda miss blogging.

Jadi, minggu lalu Saya membeli sebuah buku yang menurut Saya menarik, The Book of Questions. Buku ini belum selesai Saya baca, dan menurut Saya tidak perlu langsung Saya baca sampai habis. Kenapa? Karena, buku ini hanya berisi pertanyaan yang berjumlah 291 pertanyaan. Xixixi, banyak ya! Kenapa menarik? Karena Saya pribadi merasa perlu masukan dan ide untuk mengevaluasi diri dan memikirkan hal-hal yang mungkin saja masih terlewat.

photo_2017-08-26_18-03-22

Daaann, akhirnya Saya memutuskan untuk berbagi beberapa pertanyaan dari buku tersebut (kalau mau tahu 291 pertanyaannya, beli ya guys :D. We have to appreciate the authors for sure) dan mengajak siapa pun yang membaca blog saya untuk ikut menjawab pertanyaan tersebut.

Enjoy and Cheers!

Q: “Do you work harder to earn praise and recognition or to avoid criticism?” 

My answer must be:

Kerja? Sesungguhnya saat ini Saya bekerja masih untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil Saya, Saya dan Mama. Tapi, karena pikiran Saya bukan pilihan yang ada, maka jawaban Saya adalah Saya bekerja agar dihargai dan kalau beruntung, diakui.

Begini, Saya sudah bekerja sejak lulus SMK. Seperti yang Saya sampaikan sebelumnya, bagi Saya kerja itu lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi, tahun demi tahun berlalu, Saya pun berpikir bahwa selain itu Saya bekerja keras dan tekun dengan sebuah harapan orang lain akan menghargai hasil kinerja Saya. Selain itu, akan terasa lebih baik bila ada pengakuan dan penghargaan orang lain, baik itu rekan kerja maupun kerabat terdekat kita. Menurut Saya, saat seseorang mengakui dan mengapresiasi hasil kerja keras kita, ada rasa senang dan kebanggaan tersendiri. Ada suatu kepuasan dan keinginan mengatakan kepada diri sendiri, “You’ve done great. You made it!

Jadi, daripada menghindari kritikan, Saya cenderung bekerja keras demi hasil kerja Saya dihargai dan diapresiasi orang lain. Kenapa? Karena, Mama Saya berpesan kalau kritik itu baik untuk evaluasi agar diri kita menjadi lebih baik, entah itu kritik positif atau negatif.

This is my answer, what about yours?  🙂

I’ll see you on the next Q&A!

 

Question was picked and taken from Stock, Gregory: The Book Of Questions, 2013, Workman Publishing.

Bitchy Boss? Stay Cool and Kick Ass!

Kadang, kita merasa serba salah dalam pekerjaan. Satu sisi, kita yakin kalau kita memiliki kemampuan. Di sisi lain, atasan gak mendukung dalam pekerjaan. Bahkan, atasan terkesan bertindak dan memperlakukan kita sebagai karyawan dengan sewenang-wenang dan seenaknya.

Kalau udah begini, kita harus bagaimana? Punya atasan menyebalkan itu memang hal yang gak bisa dihindari. Dimanapun kita bekerja, pasti akan ada, paling gak, satu orang atasan yang suka menyalahgunakan wewenangnya untuk menindas karyawan.

Bingung harus bagainana bersikap? Yuk, baca artikel dari link terkait berikut ini.

“Bitchy Boss? Stay Cool and Kick Ass!” @msmaul https://medium.com/@anahusna/bitchy-boss-stay-cool-and-kick-ass-62de89b6bd96