Metanoia – Chapter 01

Bagi Saya, Mama adalah segalanya. Beliau adalah Ibu, Ayah, guru, teman, bahkan musuh dalam hidup Saya. Banyak hal yang terjadi dalam hubungan Saya dan Mama, bisa dibilang hubungan kami lebih rumit dibandingkan jalinan asmara adam dan hawa (oke ini berlebihan).

Menurut Saya, saat seseorang tumbuh dewasa, secara tidak langsung mereka mulai menjaga jarak dari orang tua mereka. Tak jarang kebanyakan orang dewasa kerap lupa atau bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membahagiakan orang tua mereka, termasuk Saya. Ya, Saya melalui banyak fase dalam hubungan ibu dan anak dengan Mama. Tapi kemudian Saya banyak belajar dan menyadari bahwa anak kadang lebih banyak menuntut ketimbang memberi atau sekedar memahami apa yang diinginkan orang tua.

Well, I’m not a good daughter, tapi Saya bisa sedikit berbagi tentang bagaimana pentingnya kita belajar menempatkan diri. Pada chapter 01 ini Saya akan mengingat dan berbagi tentang mengapa orang tua, khususnya Mama, sering sekali overprotective pada anak-anaknya, khususnya anak perempuan.

Saya ingat, ketika Saya masih duduk dibangku sekolah dasar, Mama sering sekali melarang Saya bermain karena menurut beliau teman-teman yang ada di lingkungan sekitar Saya kurang baik dan berpotensi membawa dampak negatif bagi Saya. Setiap siang seusai pulang sekolah, Mama akan mulai menutup dan mengunci pintu rumah. Perintah Mama hanya belajar atau tidur siang. Tak jarang anak-anak sepantaran Saya saat itu memanggil dan mengajak Saya bermain. Tapi, Mama dengan cepat tanggap menjawab dari balik pintu, “Ana-nya tidur.” Pernah mengalami hal serupa? Kesal? Saya pun kesal saat itu, Saya merasa Mama terlalu membatasi Saya untuk bermain. Sesungguhnya itu sangat menjengkelkan.

Begitu Saya merasa mulai besar dan duduk dibangku sekolah menengah pertama dan kejuruan, kejengkelan Saya mulai berganti dari Mama yang sering melarang Saya main menjadi kejengkelan karena keposesifan Mama. Mama posesif? Hampir seluruh anak di dunia pasti mengalami keposesifan Mama. Saya pribadi merasakan keposesifan Mama dengan sejuta peringatan untuk pulang ke rumah tepat waktu, harus menghubungi Mama setiap kali pulang terlambat atau pergi dengan teman-teman, kewajiban untuk mengangkat telepon dan membalas pesan singkat (SMS).

Seiring berjalannya waktu, Saya mulai terbiasa dengan larangan Mama untuk main, bahkan sampai saat ini Saya lebih sering di rumah atau pergi beraktivitas sendiri. Bertambahnya usia membuat Saya lebih banyak berpikir dan menyadari bahwa orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya melalui dua pertanyaan. Pertama, kenapa ya dulu Mama sering melarang Saya main apalagi sampai pulang terlambat? Kedua, kenapa sih Mama selalu marah besar kalau Saya susah dihubungi?

Jawaban pertanyaan pertama adalah Mama sayang Saya dan Mama mau yang terbaik untuk masa depan Saya. Ketika Mama melarang saya bermain dengan teman-teman yang ada dilingkungan sekitar Saya dengan alasan mereka dapat memberi dampak negatif bagi Saya, hal ini adalah sebuah visi Mama. Jangan pernah menyepelekan pandangan dan pendapat orang tua. Ingat, mereka sudah hidup lebih lama dan melalui beragam hal serta peristiwa dalam hidup lebih banyak dari kita.

Suatu ketika Saya mendengar kabar bahwa salah satu teman sekelas saya di sekolah dasar mengalami masalah yang cukup rumit. Ia kesulitan untuk menemui calon suaminya di saat mereka hampir menikah. Keadaan menjadi lebih rumit karena teman saya sudah lebih dulu hamil. Kebayang ya beratnya masalah teman saya ini. Selain itu, masih dari lingkungan sekolah dasar, Saya mendengar ada pula salah satu teman Saya yang terjerat narkoba. Saya sendiri merasa tidak tega mendengar hal tersebut, tapi disaat yang bersamaan Saya menyadari sesuatu. “Oh, ternyata Mama khawatir anak perempuannya mengalami kondisi seperti ini ya makanya sering melarang Saya banyak main apalagi sampai pulang terlambat.”

“We never know what future brings and the first person in the entire world who cares about our future is our parent. They will do anything in their power to protect their children and make them happy.”

Pernah dengar kata Karma? Tahu dong ya makna Karma itu apa? Pernah dengar juga kiasan hidup itu seperti roda berputar. Yap, jawaban atas pertanyaan kedua Saya adalah kata dan kiasan tersebut. Jadi begini, karena merasa sudah besar Saya cukup sering mengabaikan pesan Mama untuk rajin memberi kabar bahkan tak jarang Saya sengaja membiarkan handphone Saya kehabisan baterai agar Saya punya alasan untuk tidak menghubungi Mama. Sampai tiba saatnya Saya ada diposisi Mama.

Suatu hari Mama pergi ke rumah temannya yang sudah lama sekali tidak ia temui. Saya ingat Mama pergi dari pukul dua siang karena Saya menyempatkan diri untuk mengantarnya. Saat itu Saya tidak punya agenda atau rencana ke luar rumah, jadi Saya hanya menghabiskan waktu untuk tidur dan menonton TV. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Mama masih belum juga pulang. Saya pikir Mama mungkin sudah di jalan tapi disaat yang bersamaan Saya mulai merasa gelisah. Akhirnya Saya memutuskan untuk mulai menghubungi mama, baik telepon maupun whatsapp. Telepon Mama tidak aktif dan kegelisahan Saya semakin menjadi sementara waktu terus berlalu. Pukul 12.30 dini hari Mama masih belum juga tiba di rumah dan teleponnya masih tidak dapat dihubungi. Saya mulai panik dan pikiran buruk Saya mulai meliar. Saya ketakutan terjadi hal buruk menimpa Mama di jalan, mulai dari bayangan Mama diculik sampai kecelakaan, semuanya ada di dalam kepala Saya.

Saat waktu menunjukkan pukul 1 dini hari, terdengar salam dan suara pintu terbuka diiringi Mama yang memasuki rumah. Finally! Pikir Saya. Dengkul Saya melemas tapi lega, namun Saya tidak tahan untuk mengeluarkan kekesalan Saya pada Mama. Akhirnya Saya berkata, “Mama kemana aja sih? Teleponnya gak bisa dihubungi, kabarin kek. Jam 1 pagi lho ini.” Anyway, ini Saya bicaranya dengan nada sewot lho ya, gak pakai bentak-bentak atau teriak-teriak. Masih inget kalau Mama itu orang tua Saya. Jadi, kalau kalian mengalami hal serupa, orang tuanya jangan langsung dibentak ya, dosa.

Akhirnya Saya sadar kenapa Mama sewot dan marah besar kalau Saya pulang terlambat dan tidak bisa dihubungi. Saya yakin saya kena karma karena beberapa kali mengabaikan pesan Mama untuk tidak pulang terlambat dan rajin memberi kabar kepada Mama. Dan, ternyata ada diposisi Mama menunggu Saya tanpa ada kabar disaat hari semakin larut itu SANGAT GAK ENAK.

“Before you judge your parent’s do’s & dont’s list, try to stand on their feet and imagine you’re children or the people you love and care about do the exactly same things you forbid for. You will amaze how the feeling is.”

The lesson is setiap orang tua itu sayang sama anaknya, mereka tidak berharap anak mereka mengalami kesulitan apalagi celaka. Segala daya dan upaya akan mereka lakukan untuk melindungi anak-anaknya, termasuk posesif! Kita sebagai anak mungkin kesal dan jengkel, tapi ingat saja pengalaman Saya ini. Selalu ada alasan mengapa orang tua kita melarang ini dan itu. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mendiskusikan tingkat keposesifan orang tua kita. Ini yang Saya lakukan bahkan sampai sekarang. Orang tua itu teman juga kok, mereka juga bisa diajak diskusi dan ngobrol santai. Sampaikan apa keberatan kita, tawarkan opsi kondisi terbaik yang dapat kita jalani dan tentu mengurangi kekhawatiran orang tua. Just try! Dan, pesan Saya sebagai lulusan Ilmu Komunikasi, jangan bosan untuk memberi pengertian kepada orang tua. Frekuensi kita menyampaikan ide dan pendapat menjadi salah satu faktor penting komunikasi orang tua-anak itu berhasil.

***

“Basically, relationship is about communication. Once you stop communicating, you’re just start to lose everything; family, love, friend, hope, even time.”

Bitchy Boss? Stay Cool and Kick Ass!

Kadang, kita merasa serba salah dalam pekerjaan. Satu sisi, kita yakin kalau kita memiliki kemampuan. Di sisi lain, atasan gak mendukung dalam pekerjaan. Bahkan, atasan terkesan bertindak dan memperlakukan kita sebagai karyawan dengan sewenang-wenang dan seenaknya.

Kalau udah begini, kita harus bagaimana? Punya atasan menyebalkan itu memang hal yang gak bisa dihindari. Dimanapun kita bekerja, pasti akan ada, paling gak, satu orang atasan yang suka menyalahgunakan wewenangnya untuk menindas karyawan.

Bingung harus bagainana bersikap? Yuk, baca artikel dari link terkait berikut ini.

“Bitchy Boss? Stay Cool and Kick Ass!” @msmaul https://medium.com/@anahusna/bitchy-boss-stay-cool-and-kick-ass-62de89b6bd96