Chapter Four – Hello Twin Tower!

DSC_0625

 

16 Mei 2015 – Sekitar pukul 2 am, guw dan the girls sampai di Bukit Bintang, Malaysia. Kami memutuskan untuk pergi ke Malaysia via jalur darat dengan naik bus KLIA yang berangkat dari meeting point Tanjong Katong Complex, Singapore. Busnya? Totally recommended!! Shall you need further information, bisa langsung cek KKKL Singapore. Bisa langsung pesan online maupun cek jadwal keberangkatan bus. Oke, mari beralih dari urusan bus.
Jadi, ceritanya kami sampai TKP sekitar dua jam lebih awal dari yang dijadwalkan.

Lumayan merusak itinerary yang udah disusun dari Jakarta, tapi ya mau gimana lagi kan. Alhasil, kami berempat merapat ke 7 eleven terdekat dengan tampilan muka bantal, bawa-bawa koper, kedinginan, dan masih ngantuk. Ya iya lah ya kedinginan dan masih ngantuk, saat itu masih dini hari dan kami gak di negara sendiri! Berbeda dari Singapore, rasa tengah malam di Malaysia terasa lebih ‘spooky’. Selama di Singapore kami sering ada di luar hotel sampai tengah malam, tapi merasa aman-aman aja. We
didn’t know why
. Tapi, bukan berarti disini rawan kejahatan ya 🙂

Setelah nunggu sekitar dua jam, dengan salah satu teman guw yang udah sampe nenggak tolak angin, ditambah nanya beberapa orang sekitar gak banyak dapat informasi tentang lokasi masjid atau mushalla terdekat. Jadilah kami memutuskan untuk nunggu di hotel yang sudah kami pesan dengan harapan siapa tahu bisa early check-in. Nah, pas mau nai
k taksi dari Berjaya Square ini, rada drama sama supir taksi yang pada mangkal dan sudah menawarkan jasa transportasinya sejak kami turun bus. Warning banget, hati-hati dengan tarif taksinya, karena walaupun taksinya tertulis Taksi Bermeter, sebagian besar dari mereka gak pake itu dan langsung kasih harga yang bisa dibilang gak masuk akal. Percayalah.

Hal ini kejadian waktu guw yang ditemani salah satu temen guw mau cari taksi. Kami sepakat untuk gak pake jasa taksi yang mangkal disana setelah menyempatkan diri tanya-tanya berapa tarif yang mereka kasih. And you know what? They said, “MYR 300 for ride to Agora Hotel, Bukit Bintang.” Insane! Padahal, itu letak hotel hanya satu blok dari Berjaya Square kalau ditempuh dengan jalan kaki (ternyata). Jalanannya memang agak sedikit memutar karena sedang ada pembangunan MRTdisana. Kebayang kan seberapa sembarangannya itu supir kasih argonya. Jadi, sebaiknya berhentiin aja taksi yang lewat dan tanya mereka jalanin argonya atau gak. Kalau pakai argo, bisa langsung naik dan make sure mesin argonya jalan. Kalau gak, say sorry, let them go, and find the other one. Walau dini hari, gak begitu sulit kok dapat taksi di sini. Perlu diketahui juga, supir-supirnya agak maksa dan sedikit galak, jadi kita mesti sabar-sabar deh supaya bisa dapet taksi yang sesuai keinginan. Jika dibandingin sama armada taksi di Jakarta, nampaknya kita masih lebih unggul, baik dari segi kendaraan, fasilitas, maupun pelayanan supir khususnya. Bisa juga baca artikel terkait KL taxi drivers as worst in the world dan Taksi Malaysia Dinobatkan sebagai yang Terburuk di Dunia.

Sesampainya di Agora Hotel, kami langsung ketemu sama resepsionisnya di luar pintu masuk hotel. Sesungguhnya, hotel ini agak diluar ekspektasi kami berempat sih, dan sejujurnya ini dipilih pun karena waktu mau dipesan hotel ini rate-nya yang paling murah. Mengingat kami berempat hanya semalam di Malaysia, diputuskanlah untuk gak menginap di hotel yang mahal. Ulasan tentang hotel ini menyusul di postingan selanjutnya ya 😀

Harapan untuk bisa early check-in pupus karena ternyata gak bisa. Bisa sih, tapi ada extra charge lagi. Lalu, kami pun memutuskan untuk nunggu diluar hotel setelah titip koper di hotel dan beranjak ke KFC yang menjadi satu-satunya tempat buat duduk yang buka dan dekat dari hotel. Ceritanya sih pingin nunggu disini sambil sarapan dan istirahat sejenak menunggu waktu check-in. Tapi nih, berhubung salah satu temen guw udah uring-uringan capek dan mulai merasakan gejala flu, akhirnya kami berempat sepakat untuk early check-in. 

Setelah early check-in istirahat yang cukup, guw and the girls bergegas untuk menyambangi icon Negeri Jiran itu. Yeap, it must be Twin Tower Petronas. Agenda utama kami berempat selama di Malaysia adalah mengunjungi Menara Petronas dan Batu Caves. Sesungguhnya hanya dua tempat itu aja yang kita jadikan a-place-to-go-list. Selain karena gak banyak tertarik sama spot wisata disana, waktu kami juga terbatas, hanya hitungan jam aja. Kejar-kejaran sama waktu take-off ke Bangkok.

Untuk mencapai Menara Petronas, kita bisa manfaatin bus KLIA. It’s for free for sure. Waktu guw kesana itu pas hari kerja, dan ternyata gak beda sama Jakarta, macet juga. Tapi tenang, bus nya nyaman kok, AC nya terasa, selain itu juga bersih. Untuk yang satu ini, bus yang ada di Jakarta bisa dibilang kalah saing lah ya, bahkan TransJakarta aja hanya di jalur tertentu aja yang terawat dengan baik. Satu keuntungan lain berkunjung ke negara tetangga yang serumpun ya sudah pasti kita gak terlalu mengalami kesulitan komunikasi, karena bahasa yang digunakan mirip-mirip bahasa melayu di Indonesia. Jadi, kita gak perlu melulu pakai bahasa Inggris kok untuk nanya warga setempat ke arah mana tujuan kita.

DSC_0597

Sebelum mengabadikan moment Menara Petronas, guw and the girls memutuskan untuk numpang ngadem dulu di Suria KLCC mengingat cuaca panas dan matahari cukup terik ketika kami sampai. Setelah muter-muter di mall dan merasa cukup tenaga lagi untuk menghadapi panas kami langsung DSC_0608bergegas ke icon Malaysia ini. Menara Petronas itu… ternyata ya hanya sebuah gedung di kawasan perkantoran atau bisa dikenal juga business district. Gedung ini dilengkapi dengan mall dan galeri Petronas didalamnya. Jadi, kalau kalian susah move on dari yang namanya mall, aman lah. Galeri Petronas-nya juga menarik buat dikunjungi, bagian paling menariknya itu yang memamerkan F1 world-nya. Nah, kalau mau masuk kesini, kalian harus titip tas kalian di petugas pintu masuk, walaupun sebenarnya gak ada yang bisa dibawa pulang juga sih di dalam sana. 😀
Menurut guw pribadi sih, there’s nothing really interesting nor special about Menara Petronas but the architecture. That’s all. Karena berlokasi di kawasan bisni, rasanya sama aja kalau kita lagi lewatin kawasan Mega Kuningan lalu lihat hotel JW Marriott maupun gedung Oakwood atau melintasi SCBD Sudirman lalu lihat Hotel Ritz Carlton & One Pacific Place 🙂 Untuk bisa dapetin foto dengan latar belakang Menara Petronas juga gak semudah yang dikira, selain karena butuh effort nyari angle yang pas, kalau waktu kunjungannya gak pas itu udah pasti dipenuhi para wisatawan. Kira-kira itu pengalaman guw and the girls. Well, at least we got one, thanks to technology called front-camera!

DSC_0675

DSC_0674Catatan selama disini, kondisi traffic di Bukit Bintang atau Kuala Lumpur gak terlalu beda jauh sama Jakarta, sama-sama macet. Jadi, using public transportation is the best choice. Kalau gak terlalu urgent atau perlu-perlu amat, sebaiknya naik transportasi umum aja. Public transportation di Malaysia juga mudah kok akses dan penggunaannya. Taksi disini gak terlalu direkomendasikan. Satu lagi, disini juga panas! Make sure you have sunscreen in your travel bag!

Advertisements

Chapter Three – Love in Clarke Quay and Coffee

DSC_0533

14 Mei 2015 – Hari terakhir guw di Singapore ini dimulai dengan perjuangan salah satu temen guw buat minta air panas ke pihak hotel pas jam sarapan. Another hoax plan happened at this morning. Malam sebelumnya setelah main monopoli, kita sepakat buat berangkat dari hotel jam 9 pagi. Karena tujuan kita adalah mengunjungi Orchard Boulevard alias ngemol dan singgah ke beberapa museum yang bisa didatangi tanpa bayar dan searah ke Clarke Quay. Pokoknya, kita berempat bener-bener atur jadwal supaya bisa bikin statement, “at least, we’ve been here!”  DSC_0534Destinasi pertama guw adalah National Museum of Singapore. Ini museum gak jauh dari hotel tempat kami menginap. Untuk bisa ke museum ini, kita berempat tinggal naik bus ke arah Orchard Boulevard. Kebetulan guw lupa nih turunnya di bus stop mana. Hehehe, tapi yang jelas gak terlalu jauh kok.

Begitu sampai di Orchard Boulevard, gak ada destinasi lain selain shopping spot. Karena disini pusat perbelanjaan, mulai dari bDSC_0564rand lokal sampai brand paling high end sekelas LV, Chanel, Burberry, dan masih banyak lagi. Pokoknya kanan kiri sejauh mata memandang itu ya mall 😀 Berhubung cuaca lagi panas-panasnya, alhasil guw dan ketiga temen guw memutuskan untuk window shopping sekalian ngadem. Setelah masuk H&M dan beberapa store lain, guw dan temen-temen memutuskan ke 313@Somerset. Disini kita jajan! Salah satu temen guw beli crispy mushroom dan crispy squid. Taste good, dan menurut pengakuan temen guw harganya juga murah 🙂 Selain itu, kami juga nyoba salah yogurt yang kabarnya lagi hits banget di Singapore, namanya llaollao natural frozen yogurt. Kami beli ukuran medium dengan 3 topping, pineapple, kiwi, and almondIt tasted sooooooo yummy! So worth it to buy. Topping buah-buahannya punya potongan yang sangat memuaskan hati. Dan guw penggemar berat nanas! It is summer, baby! Frozen yogurt is kill it. Pokoknya gak nyesel deh beli yogurt ini, cukup kok buat sharing berdua, bahkan berempat seperti guw dan temen-temen. Tapi, kebetulan dua orang temen guw not that excited about yogurt, jadilah guw dan satu temen guw yang asyik ngunyahin yogurt. Keunggulan lain jajan di Level B3 313@Somerset ini, selain karena banyak pilihan jajanan menarik dengan harga variatif, tempat duduk yang menarik dan lucu, ada juga free wifi. 😀 Jadi, kalian bisa stay updated deh di social media.

DSC_0579

Setelah resmi menjejakkan kaki di Orchard dan puas jajan di Somerset, guw and the girls bDSC_0567ergegas melanjutkan perjalanan ke Clarke Quay. Demi pencitraandan tercapainya itinerary yang udah kita buat 😀 Dari sini kita bisa naik MRT dan transit di Dhoby Ghaut lalu turun di Clarke Quay. FYI, Clarke Quay ini juga wujudnya seperti kawasan belanja dan lifestyle. Salah satukeunikannya mungkin adalah dengan adanya satu spot khusus gembok cinta alias Locks of Love. Nah, gak perlu jauh-jauh ke Eropa atau Korea deh ya buat menggembok cinta sama pasangan, negara tetangga juga ada 😀 Gak bawa gemboknya? Jangan sedih, ada mesinnya kok, jadi tinggal beli di mesin otomatis ini.

DSC_0569

Selesai foto-foto dan istirahat sejenak, guw dan ketiga temen guw jalan memutari si Clarke Quay ini. Nah, karena disini memang tempat nongkrong, jadi banyak tempat atau cafe yang tutup pas kita dateng. Overall, gak ada yang istimewa disini. Kalau boleh jujur, malah masih lebih bagus Mall Central Park deh. Selain konsep go green nya dapet, tempat nongkrongnya juga asyik, dan gak kalah rapi dan bersih. Pada akhirnya, karena bener-bener gak ada tempat yang menarik lagi dan kebetulan udah terlalu kangen nih sama Starbucks, jadilah kami berempat menjejakkan kaki di Starbucks Clarke Quay. Gagal move on! 😀

Catatan selama hari ini, seriously, there’s nothing really special about Singapore but clean and modern. That’s all. But, the public transportation is really the best! You won’t think that’s too difficult using public transportation while you’re in Singapore. Jadi, kalau ke Singapore itu yang paling bener buat menikmati tempat-tempat yang super modern, artistic, dan sophisticated. So, you need not much time to know and explore Singapore. Enjoy! 🙂

Where to go in Singapore?

DSC_0438-rev

Satu hal yang harus ditetapkan sebelum melakukan perjalanan atau liburan, baik ke luar negeri atau hanya di dalam negeri, penting banget nentuin tujuannya apa. Is it focus on culinary? Relaxation? Beach and bikini? Or city tour? Ini penting banget buat mempermudah kita nentuin itinerary. Tujuannya boleh lebih dari satu? Ya pasti boleh doong. Semuanya bisa? Bisa aja kalau liburannya lebih dari seminggu. Tapi percaya deh, kalau kebanyakan tujuan dengan waktu yang singkat itu cuma bikin kita capek doang.

Mungkin cara guw dari previous trip bisa diadaptasi atau jadi gambaran bagi yang masih bingung mau kemana atau gimana nyusun itinerary. Last trip ini guw arrange bareng satu temen guw yang kebetulan udah menjejakkan kakinya di Singapore sekitar dua bulan sebelum keberangkatan kami.

Kebetulan kami berempat udah komitmen gak mau hura-hura di Singapore, tujuan kita bener-bener city tour aja. Selain karena Singapore gak punya tempat kuliner spesial yang khas, atau daerah pegunungan yang bisa bikin relax, apalagi pantai yang indah, jadi kita berempat memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat menarik nan hits di Singapore. Pastinya, kita juga nentuin destinasi berdasarkan gratis atau gaknya tempat yang mau dikunjungi. Tahu sendiri kan ya biaya hidup di Singapore itu mahal. Jadi, karena belum bisa liburan ala ibu direksi atau selebriti lokal apalagi internasional, ya sudah jadilah itinerary-nya seperti ini.

Day 1

2 pm                      :  Berangkat dari meeting point (Menara Jamsostek) ke Bandara Soetta

3 pm                      :  Nunggu boarding gate buka sambil menikmati beverages J.Co

5 pm                      :  Sholat Ashar dan mempercantik muka 😀

5.20 pm                :  Nunggu waktu boarding

6.15 pm                :  Heading to Singapore

10 pm                    :  Check-in hotel

12 pm                    :  Belanja oleh-oleh di Mustafa Center

2 am                      :  Istirahat

Catatan di hari pertama ini, yang paling utama adalah gak ketinggalan pesawat! 😀 Karena gimana mau liburan kalau gak keangkut pesawatnya? Terus, begitu udah mendarat dengan selamat di negara tujuan dan sampai di tempat menginap, istirahat dulu. Jangan sampai karena terlalu excited mau muter kesana sini, terus lupa deh sama kondisi badan. Sehat itu paling utama selama liburan, makanya jangan lupa bawa vitamin C, atau madu, atau obat kebanggaan Indonesia: reject wind aka Tolak Angin.

Nah, kalau kalian memang hanya ingin eksplor Singapore, recommended banget buat belanja oleh-oleh hari pertama di Mustafa Center. Selain alokasi dana buat oleh-oleh masih ada, kita juga masih fokus banget nih buat nyari apa aja yang mau dibeli, jadi belanjanya gak asal-asalan. Alasan lain buat belanja oleh-oleh di hari pertama adalah, stamina kita masih full charged! Jadi gak perlu khawatir soal oleh-oleh di hari-hari terakhir dengan kondisi badan yang udah capek? 🙂

DSC_0135

Day 2

8.30 am                :  Sarapan

9 am                      :  Explore Resort World Sentosa (RWS); visit Trick Eye Museum, photo shoot di area Universal Studio, take a look the beach

2 pm                      :  Have a late lunch

3 pm                      :  Heading to Merlion Park

4 pm                      :  City Tour (Esplanade park, Merlion Park, Marina Bay, Oue, The Promontory at Marina, Marina Bay City Gallery, Marina Bay Sands, Bayfront Avenue)

8.30 pm                :  Dinner

9.30 pm                :  Istirahat

Catatan kaki di hari kedua, prepare your body! Be fit! Ini penting banget kalau punya agenda city tour yang butuh banyak jalan. Kalau ngerasa lelah atau capek, ya istirahat dulu ya. Selain itu, jangan sampai skip makan siang maupun makan malam. Karena pesan sponsor (cowoknya temen guw) mengatakan, “Pokoknya jangan sampai laper. Harus makan.” 😀

DSC_0534

Day 3

9 am                      :  Sarapan

10 am                    :  City Tour (Singapore National Art Museum, Orchard Boulevard, 313@Somerset, Clarke Quay)

4 pm                      :  Coffee break at Starbucks Clarke Quay

5.30 pm                :  Back to Hotel

6.30 pm                :  Heading to Tanjong Katong Complex (bus meeting point)

8.30 pm                :  Dinner

10 pm                    :  Heading to Kuala Lumpur, Malaysia

Catet banget nih ya, kalau berniat jalan ke museum jam 10an, pakai sun screen dan bawa sunglasses. Pakaiannya juga yang simple aja, jeans sama T-shirt are the best. Gak seru kan kalau jalan-jalan dengan keadaan badan keringetan? Selain itu, jangan lupa buat titipin yang namanya tas koper ke pihak hotel sementara kita jalan-jalan.

Kebetulan guw and the girls ini suka banget meet up dan ngopi-ngopi lucu di Starbucks. Temen guw bahkan berniat buat beli tumbler-nya. Nah, kalau emang udah terlanjur cinta dan nemu tempat ngopi yang biasa dikunjungi di Jakarta, go ahead.

Catatan lain yang gak kalah penting di hari terakhir ini adalah transportasi yang dibutuhin untuk pergi ke pick-up point bus yang udah di-booking online. Manajemen waktu penting banget di hari terakhir, selain untuk mastiin semua tujuan terakhir didatengi, ini juga penting untuk mastiin kita bisa sampai di tempat pick-up point tepat waktu. Untuk mencapai Tanjong Katong Complex, kita bisa naik bus nomor 67 atau naik taksi. Hati-hati pas naik bus ya, jangan sampai kelewatan turunnya. Lumayan kalau sampai harus jalan balik ke halte bus Tanjong Katong Complex-nya.

Chapter Two – Singapore, We are walking!

DSC_0070

13 Mei 2015 – “Siap-siap capek ya selama di Singapore.” Pesan ini dipersembahkan oleh temen guw yang juga guw persembahkan untuk kalian yang bener-bener mau explore Singapore. Hari ini itinerary guw dan temen-temen guw cukup padat. Tujuan utamanya adalah Trick Eye Museum dan Merlion statue. Tapi, kita berempat sepakat buat total jalan-jalan hari ini dan memulai destinasi dari yang dirasa paling jauh dulu, yaitu Resort World Sentosa (RWS).

Rencananya sih berangkat dari hotel jam 8, tapi kenyataan berkata lain. Kami berempat yang baru pulang dari Mustafa Center sekitar jam 2 am dan baru bener-bener tidur sekitar jam 3.30 am, nampaknya kelelahan dan akhirnya bangun kesiangan. Akhirnya, jam 9 am kita semua berangkat dari hotel dan bergegas ke Farrer Park MRT station. Nah, catatan nih ya, jam-jam segini tuh panasnya juara wahid banget kan ya. So, kalau emang berniat jalan kaki ke MRT station, sangat disarankan (pake banget) untuk pake sunscreen. Sunglasses juga jangan lupa dibawa, karena pasti akan berguna banget untuk menghalau paparan sinar matahari yang super amazing.

Untuk bisa mencapai RWS ini kita harus ke Vivo City dulu untuk lanjut transportasi kesana. Actually, Vivo City ini adalah mall yaa. So, kalau ngerasa kelaperan dan berniat makan dulu, bisa lah mampir makan. Atau kalau memang punya banyak waktu luang buat keliling dan hobi banget nge-mall, yaa bisa deh mejeng dulu disini. Kebetulan guw gak sarapan dan terasa laper banget, begitu lihat ada roti ngomong alias Bread Talk, langsung lah guw minta berhenti dulu buat beli makan. Catatan nih, bagi yang suka banget sama roti Bread Talk varian Floss, jangan lupa dicek dulu itu daging apa. Is it chicken, beef, or pork? Hal ini perlu diinget bagi temen-temen muslim yang sangat concern sama makanan halal. Kebetulan waktu guw beli, guw main ambil aja tanpa ngecek lagi. Sampe akhirnya sebelum guw bayar ke kasir beberapa roti yang guw ambil, mbak kasirnya dengan baik hati ngasih tahu dengan bilang, “It’s pork, is it okay?” Dan jawaban guw adalah tidak dan minta maaf karena gak jadi beli varian floss itu.

DSC_0071

Selain itu, kita juga bisa langsung beli tiket yang diinginkan, misalnya Universal Studio, Trick Eye Museum, dll. Nah, guw dan temen-temen guw memutuskan untuk langsung beli tiket museum tujuan kita disini. Harga tiket yang guw bayar kemarin per orangnya, SGD 25 atau kalau dikonversi kurang lebih IDR 250.000. Saran guw sih, kalau emang liburan, gak perlu sibuk ngonversi nilai uang ke rupiah, stres dan pusing yang ada. 🙂 Tapi, bukan berarti gak boleh lho ya, kalau lagi mau beli barang yang dijual juga di Jakarta dan pingin ada perbandingan, monggo dikonversi.

Untuk mencapai RWS, kita masih harus lanjut sky train. Kita gak perlu beli tiket lagi kalau punya EZ Link dan bersaldo cukup. It is so easy using Singapore public transportation. Jeda waktu kedatangannya juga gak lama kok, kita hanya perlu nunggu kurang lebih 4-6 menit aja. Voila, sampe lah kita berempat di RWS. Begitu masuk, kita semua langsung rempong foto, termasuk motoin wisatawan lain. Berhubung matahari lagi terik-teriknya, kita berempat memutuskan untuk langsung ke Trick Eye Museum. Itung-itung numpang ngadem yaa. 😀

DSC_0090

Selama jalan ke Trick Eye Museum, udah mulai bisa sibuk foto di spot-spot lucu, kek patung M&M chocolate. Selain itu, kita juga sempet kenalan sama pengunjung lain karena tertarik banget godain little girl yang super menggemaskan! Rasanya kalau pergi ke luar negeri dan ketemu orang dari negara sendiri, itu bahagia banget! Berhubung sekarang budayanya take a selfie picture, kita pun akhirnya foto bareng-bareng lengkap dengan mama papanya.

DSC_0104

Setelah jalan dan foto-foto, sampailah kita berempat di Trick Eye Museum. Tiket yang udah kita beli di Vivo City tadi bisa langsung ditukerin free passnya untuk masuk. Begitu masuk udah langsung bisa coba foto-foto di beragam tema. Catatan! Judulnya memang Trick Eye Museum, tapi untuk bisa dapet foto dengan hasil bagus, ini juga depend on man behind the camera. Kalau agak bingung gimana cara dapetin foto oke, jangan sedih, ada tips and trick-nya kok. Jadi bisa nyontek dan sedikit improv lah. Catatan lain adalah muterin museum ini dan foto dibeberapa spot membutuhkan effort dan energySo, make sure kalian bawa air mineral di tas ya.

DSC_0167

Pastiin kalian foto di semua tema yang ada, tapi juga gak perlu semua spot disambangi sih. Karena ada beberapa spot yang butuh effort dan keterampilan fotografi yang gak simple. Waktu yang udah menunjukkan waktu makan siang dan perut yang semakin terasa lapar, akhirnya kita berempat keluar museum dan memutuskan untuk cari makan. Tapi, sebelum itu kita semua sempetin dulu nih foto-foto di depan Universal Studio. Lumayan buat pencitraan kalau we’ve been here!

DSC_0357

Kalau minat masuk ke Universal Studio bisa beli tiket online atau langsung di tempat. Harga tiket untuk masuk arena Universal Studio sekitar SGD 68 – SGD 120, ini pun tergantung season. Jadi, kalau mau kesini bisa cek dulu harga tiketnya di http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Homepage/Attractions/UniversalStudiosSingapore 🙂 Jangan lupa browsing siapa tahu nemu promo dari travel-travel dengan harga yang lebih terjangkau. Perlu diingat juga kalau pembelian tiket online ada masa validasinya, jadi jangan sampai beli tiket yang expired sebulan sebelum keberangkatan.

Berhubung salah satu temen guw ada yang pingin banget lihat pantai di Singapore, jadilah kita semua berangkut ke pantai. Singapore punya pantai? Actually, pantainya sih buatan ya, terbantu menarik karena lokasinya tertata rapi. Kalau dibandingin sama pantai-pantai di Indonesia, aduuhhh kalah jauh! Masih lebih juara pantai Kuta Bali (walau udah kotor banget sekarang), atau pantai di Gili Trawangan Lombok. Sesampainya di Beach Station dan gak ke pantainya juga karena perut udah mulai gak menoleransi kelaparannya, jadilah kami muter nyari makan. Sempat terbersit untuk makan McDonald’s, tapi oh tapi yaa, kebetulan guw paham banget nih temen-temen guw pada butuh karbohidrat sekelas nasi. Ditambah lagi ingatan akan itinerary selanjutnya yang mau explore Merlion Park, guw mempertanyakan keputusan mereka yang hampir mesen burger di McDonald’s. Akhirnya, kami semua sepakat makan di restoran Taste of Asia. Is it yummy? Definitely yes. Ulasannya terpisah ya.

Setelah makan dan perut mulai meneriakkan kata kenyang, kita berempat bergegas buat melanjutkan aksi city tour ke destinasi selanjutnya. Untuk mencapai Merlion Park, kita harus balik lagi ke Vivo City dan naik MRT dari sana. Menurut temen guw yang sebelumnya pernah ke Singapore, baiknya kita turun di Esplanade Station. Jadi, kita bisa mampir lihat Esplanade lalu jalan kaki ke Merlion Park. Tapi oh tapi nih, begitu kita sampe dan keluar Esplanade Station, ternyata gedung Esplanade-nya lagi ditutup untuk sementara waktu karena sedang ada renovasi. Hiks 😥

Alhasil, mau gak mau kita berempat memulai aksi jalan kaki ke Merlion Park tepat dari seberang Esplanade. Ini lumayan banget lho! Sambil jalan ke Merlion Park, banyak jajanan sejenis eskrim atau snack lain yang bisa dibeli kalau berminat. Kita berempat sampai di Merlion Park udah agak sore, tapi tetep masih panas. Untuk bisa foto dengan latar belakang patung Merlion-nya kita agaknya harus sabar dan jeli lihat spot terbaik, karena rame banget. Jangan ragu buat minta tolong sama orang lain saat kita mau foto barengan sama rombongan kita sendiri, kalau beruntung bisa dapet foto dengan hasil bagus kek guw dan temen-temen. 🙂

DSC_0464

Dari Merlion Park, kita berempat sepakat pingin ke Gardens by the Bay yang lokasinya ada di deket Marina By Sands. Nah, jangan lupa ya, foto dengan latar belakang Marina Bay Sands. Selain itu, jangan lupa juga take a panorama picture. Lagi-lagi kami berempat jalan kaki dari Merlion Park ke Gardens by the Bay, karena menurut pandangan mata nampak dekat. Tapi, percaya deh, ini jauh banget! I really mean it. Kami berempat jalan dari langit masih terang sampe langit gelap masih belum juga sampe di Gardens by the Bay. Bahkan bisa dibilang kita salah pilih jalan karena akhirnya makin susah untuk mencapai Gardens by the Bay. Padahal, kita udah sempetin istirahat sebentar untuk meredakan rasa lelah dan pegal di kaki. Tapi ya mau gimana, jarak yang kami ingin tempuh dan yang udah ditempuh itu memang jauh banget. Salah satunya udah mulai lelah dan lapar begitu kita sampai di sekitaran Marina Bay Sands, dan guw pun mulai lapar. Badan udah mulai terasa lengket karena jalan seharian dari pagi sampe menjelang malam.

Setelah stuck di dekat pintu masuk Marina Bay Sands sambil mandangin Gardens by the Bay di depan mata, tapi masih harus nyebrang dan jalan kaki lagi, kami semua sepakat untuk menyudahi aksi jalan-jalan hari ini. Akhirnya, kami dengan bijak memutuskan untuk gak memaksakan diri ke Gardens by the Bay dan pulang. Ini penting ya, kalau kalian pergi sama temen-temen, jangan lupa buat pikirin mereka juga. Jangan egois untuk nurutin keinginan destinasi kalian, karena bisa mengundang pertikaian kecil yang sangat bisa merusak mood liburan. It is absolutely not recommended! 

Karena berniat mampir makan malam dan beli air mineral murah lagi, kita memutuskan untuk turun di Farrer Park Station dengan transit terlebih dahulu di Dhobby Ghaut station. Akhirnya kami makan malam, dan dengan perut kenyang kembali lagi ke hotel untuk istirahat dan main monopoli. Hohoho. We’re really really having fun.

By the way, salah satu alasan guw memberi judul postingan ini Singapore, we are walking adalah karena ruute jalan kaki guw dan temen-temen yang sebagai berikut: esplanade park – fullerton road – Merlion park – Oue – the promontory at Marina – Marina bay city gallery – Marina bay Sands – Bayfront avenue.

Sekarang ngerti dong kenapa pesan sponsor pertama guw adalah siap-siap capek? Have a good try guys. We’ll see you on the next post about exploring Clarke Quay. 

Chapter One – First Night in Singapore

DSC_0017

12 Mei 2015 – Setengah hari ngantor itu sebenernya cuma pencitraan aja sih kalo kita rada loyal sama kantor. Let’s say, agak sadar diri lah bakalan cuti lama. Saran banget nih, bagi yang kantornya rada usil sama urusan cuti, bisa lah dicari penerbangan yang rada sore atau malam, diatas jam 6 sore. Biar bisa gaya dulu kerja setengah hari. Lumayan juga buat nitip-nitip kerjaan ke yang kelimpahan, hehehe.

Setelah aksi jedag jedug jantung nunggu kabar dari salah satu temen guw soal paspor, akhirnya guw dan kedua temen yang lain bernafas lega. The passport is ready to be used!! Alhamdulillah banget yaa, akhirnya feeling guw yang sempet bilang doi bakalan gagal jalan terbantahkan. LEGA! Buat yang berencana berangkat ke bandara bareng-bareng, bisa coba alternatif kumpul di satu meeting point dan patungan buat naik taksi ke bandara Soekarno Hatta tercintah. Tapi, kalau ada sodara, kenalan, pacar, atau gebetan (mungkin) yang bersedia nganterin, itu lebih baik lagi. Pastinya putusin meeting point-nya bener-bener gampang dijangkau temen-temen yang lain dan pastinya deket akses jalan ke bandara.

Guw dan ketiga temen guw pun tiba di bandara sekitar jam 3, matahari masih terik lah buat geret-geret koper dari parkiran mobil ke pintu masuk terminal. Mengingat salah satu temen guw yang kepentok urusan paspor belum check-in, jadilah guw nemenin doi check-in dulu. Setelah urusan check-in selesai, guw dan temen guw nyusul dua yang lain ke J.Co donuts buat ngobrol-ngobrol. Nah, disini terjadilah pengakuan dosa dari temen guw yang gaduh soal paspor. Hahaha. Yang ini jangan ditiru deh ya. Pokoknya kalau emang mau ke luar negeri, paspor itu adalah hal pertama yang harus disiapin dan dipastiin validasinya. Jangan paspornya ada tapi udah mau expired, ya sama aja bohong. Satu lagi, manajemen emosinya juga harus dijaga ya, jangan sampe liburan tapi bete-betean, gak guna.

Sekitar pukul 18.45 WIB, guw dan ketiga temen guw take off meninggalkan Jakarta, ibukota tercinta dengan segala masalah, kepenatan, dan kejenuhan yang ada. Kebetulan ada salah satu temen guw yang selalu nervous tiap kali naik pesawat. Nah, buat yang punya masalah kek gini, baiknya cari antisipasi yang paling cocok buat diri sendiri. Misalnya, minum obat anti mabok (seperti antimo misalnya), dengerin musik (bisa lewat iPod atau galeri musik di hand phone), ngobrol, atau bahkan tidur. Apapun itu, buat diri sendiri nyaman selama perjalanan. Rasa nervous atau takut jangan diturutin ya, think positive is a big must! 

DSC_0025

Setelah mendarat dengan selamat di Changi International Airport, Singapore, guw dan temen-temen bergegas menuju terminal public transportation. Nah, buat yang pingin ke Singapore dan baru pertama kali ke guw gini, udah paling bener manfaatin public transportation buat pergi kemana-mana. Rutenya jelas, cepet, dan pastinya terjangkau. Berhubung ini pertama kalinya guw berkunjung ke negara ini, demi kenyamanan dan ketidakribetan, guw memutuskan untuk beli kartu EZ Link buat naik MRT (kalau di Indonesia seperti e-money bank yang bisa dipake buat naik busway dan kereta) ketimbang nyari pinjeman temen di Indonesia. Harga yang harus dibayar buat beli kartunya itu SGD 12, itu udah termasuk saldo senilai SGD 7. Lumayan bisa dipake buat berapa kali naik MRT.

Kami nginep di Cultural Hotel Singapore yang berlokasi di Jalan Besar. Kalau dari bandara, naik MRT turun di Lavender station atau Farrer Park station. Kebetulan waktu itu guw dan temen-temen memutuskan untuk turun di Lavender station dan jalan kaki ke hotel. Setelah cukup desperate jalan nyari hotel, kami mulai khawatir salah arah atau salah jalan. Ada sedikit rasa panik dan cemas karena gak ada akses internet buat cek google maps atau waze buat jalan ke hotel. Akhirnya setelah jalan sekitar dua blok, guw dan temen-temen memutuskan untuk nanya sama orang. Pepatah lama itu udah paling bener, “malu bertanya, sesat di jalan.” Kalau nyasarnya di Jakarta sih mending ya, nah nyasarnya di negara orang? Not funny at all.

Thanks to Ashal, orang yang kita tanyain pas lagi nunggu lampu hijau buat nyebrang jalan. Setelah ngasih tahu dia alamat lengkap hotel tempat kita nginep, dia langsung buka google maps dan nganterin kita hampir setengah jalan. Alhamdulillah setelah hampir setengah jam lebih kita nyari hotel, akhirnya ketemu juga itu tempat nginep. Mengingat kita ada empat orang dan kamar yang di-book cuma satu, jadilah kita ngakalin supaya dua orang lagi bisa masuk tanpa kena charge. Setelah acara cek in kamar yang panjang dengan staff yang gak ramah-ramah amat, guw dan satu temen guw buru-buru naik lift kabur ke kamar buat drop semua tas (3 koper, 1 tas jinjing besar, sama 1 backpack) dan mikirin cara buat “nyelundupin” dua orang temen guw yang masih nunggu di ujung jalan deket hotel.

Akhirnya, setelah mikir, mikir, dan mikir (sambil update Path dan Whatsapp pastinya), kami berdua turun buat jemput dua orang lainnya. Gimana caranya? Nah, kebetulan hotel tempat kita nginep ini punya exit door di sebelah lift dan jauh dari jangkauan pandangan meja resepsionis. So, guw ngasih satu key card kamar ke dua temen guw dan masuk hotel secara terpisah. Mereka berdua duluan masuk, disusul guw dan temen guw. Pokoknya, karang skenario deh supaya bisa masukin tambahan orang tanpa harus kena charge. Tapi jangan sampe lupa, partner pas cek in jangan beda tiap keluar kamar. That’s a big NO.

Kabar baik lainnya dari lokasi hotel tempat kami nginep adalah, jarak ke Mustafa Center cuma kurang dari 10 menit jalan kaki! Indah banget kan tuh. Kita berempat mutusin buat nyari oleh-oleh atau titipan di Mustafa pada malam pertama kita sampe. Kenapa? Supaya kita masih fokus sama apa yang mau dibeli dan apa yang dititip. Jadi, uang yang udah dialokasiin buat itu gak keganggu gugat, plus bisa langsung ditata di koper. Pilihan ini juga bikin kita gak kekurangan waktu buat main dan explore tempat-tempat yang mau dikunjungi.

So, malam pertama di Singapore dihabiskan buat explore Mustafa Center untuk nyari cokelat Alfredo green tea (yang emang enak banget), bahkan guw dapet magnet kulkas khas England plus souvenir bola kristal kecil yang isinya miniatur Big Ben, HAPPY! Selain itu, kita juga nemuin supermarket 24 jam yang jual air minum kemasan 1,5 liter dengan harga SGD 1 aja yaa. Amazing lho.

Nah, catatan kakinya untuk malam pertama di Singapore adalah simpen peta lokasi tempat nginep dan cari tahu lokasinya paling deket sama station MRT apa, pastiin informasi ini dari sebelum berangkat ya. Ini penting banget apalagi kalau sampe sininya malem. Naik taksi gak bisa jadi alternatif yang direkomendasiin karena biayanya selain mahal, masih ada extra charge untuk pick up di malam hari. Rugi. Kalau ngerasa udah ikutin peta tapi masih ngerasa lost juga, jangan ragu buat tanya. Gak usah takut soal bahasa, di Singapore cukup banyak orang yang bisa bahasa melayu. 🙂 Kalau berniat nyari oleh-oleh, carilah di hari pertama, di Mustafa Center ini recommended kok, selain barang yang variatif, harganya juga relatif lebih murah ketimbang di tempat oleh-oleh lain. Jangan sampe waktu explore tempat-tempat serunya keganggu karena inget belum beli oleh-oleh atau titipan yaa.

Masih ada kegiatan city tour yang menanti keesokan harinya. So, stay tune ya. Chapter dua bakal ngebahas tentang jalan-jalan (ini beneran jalan-jalan maksudnya) explore Resort World Sentosa sampe ke Marina Bay Sands. See ya! 😉

Catatan Perjalanan Tiga Negara

sneakers to go

Menjejakkan kaki di Changi International Airport, Singapore, mungkin bukan kali pertama buat guw. Tapi, kalau urusan explore Singapore-nya itu lah yang jadi pertama kali. Sebelumnya guw singgah di Singapore hanya untuk transit selepas pulang dari Thailand di tahun 2013 lalu. Kalau waktu itu guw sendirian, kali ini guw pergi mengunjungi Singapore barengan temen-temen kuliah.

Tema perjalanannya sih backpacker, tapi bawaannya koper (tetep gak mau repot ngegembol backpack). Perjalanan ini udah di-arrange dari tahun lalu, alhamdulillah tiket berangkat dari Jakarta ke Singapore-nya kita dapet tiket promo super murah yang disponsori oleh Air Asia. Sempet terbersit rasa cemas sih waktu ada tragedi QZ8501, dan sempet ragu mau berangkat. Tapi, finally, kita semua tetep berangkat sesuai jadwal. After all, maskapai ini memang punya pelayanan yang bagus kok (pengalaman selama ini). Oke, lupakan soal maskapai.

Guw berangkat bersama ketiga temen kuliah yang makin deketnya karena adanya rencana perjalanan ini. Dua orang diantara kami memang baru pertama kali keluar negeri. Waktu perencanaan yang lama, lumayan membantu mereka untuk persiapan legalitas seperti paspor, baik dari segi dana maupun waktu pengurusan. Yaa, walaupun di menit-menit terakhir sempet agak zonk sih, karena salah satunya ternyata baru ngurus paspor H-5 keberangkatan. -____- Alhamdulillah, itu paspor jadi tepat di pagi hari sebelum keberangkatan siangnya.

Catatan nih, buat yang baru pertama kali keluar negeri, having passport is a big must! Jadi, kalau niatan mau liburan ke luar negeri, baiknya hal pertama yang diurus itu sebelum tiket dan lain-lainnya itu adalah punya paspor dulu. Jangan menggampangkan urusan pembuatan paspor. Pelayanan imigrasi sekarang memang udah lebih cepet dibanding dulu. Sekarang, proses pembuatan paspor hanya makan waktu 1 sampai 3 hari paling lama. Tapi, kalau kalian yang kerja, urusan nyolong waktu buat ngurus paspor pasti susah. Karena pembuatan paspor sekarang ada batas maksimal alias kuota per harinya. Jadi, harus dateng ke imigrasi buat registrasi dan pengurusan administrasi lainnya dari pagi-pagi banget. Hal ini patut banget diinget biar gak kejadian kek temen guw yang super dag dig dug nungguin yang namanya paspor karena ngurusnya mepet waktu keberangkatan. Karena guw juga ikutan jedag jedug disco nungguin kabar doi udah dapet paspor.

Catatan lain adalah think twice before you say YES about oleh-oleh atau titipan. Percaya deh, kalau niatnya memang mau liburan dan having fun, meng-iya-kan yang namanya oleh-oleh apalagi nerima titipan ini itu dari orang, cuma bikin kita repot doang, khususnya pas pulang. Kenapa? Selain nambah beban yang kita bawa di tas (mau itu koper atau backpack, lebih sialnya lagi kalau sampe harus jinjing tas tambahan), waktu kita buat menikmati acara liburan juga sedikit tersita karena adanya “tanggung jawab” buat nyari titipan dan beragam oleh-oleh yang bisa dibawa. Bukannya ngajarin pelit nih ya, tapi alangkah lebih baik kan kalau waktu liburan itu difokuskan buat liburan, supaya refresh segala-gala (body, mind, and soul). Hal kejadian nih sama salah satu temen guw di trip ini. Doi ketitipan yang namanya coklat Alfredo. Itu cokelat emang enak sih, tapi kebayang gak kalau ketitipan 6 pax cokelat Alfredo? Me? Can’t imagine it before. Alhasil, begitu berangkat dari Singapore ke Malaysia, setengah kapasitas koper dia hanya keisi coklat titipan. Padahal, baju bawaan dia dan souvenir yang dia beli untuk pribadi gak banyak. Kebayang kan ruginya? Udah harus mikirin beli titipan, space untuk nampung barang pribadi berkurang, ditambah lagi harus ngeluarin tenaga lebih untuk bawa tas yang semakin berat. Is that worth it? I don’t think so. Jadi, kalau mau ketitipan, make sure barang titipannya simple dan gak terlalu berat. Kalau terpikir beli oleh-oleh, baiknya cari yang se-simple mungkin dan gak maksain yang “khas” sana banget. Don’t waste your time to think about the others while you enjoy your own me times. It is a very big no.

Hal yang perlu dicatat juga adalah kumpulin banyak informasi tentang transportasi negara tujuan, petanya sekalian. Ini bener-bener helpful banget selama perjalanan guw dan temen-temen selama di Singapore, Malaysia, dan Thailand. Kenapa penting? Kalau masih di Jakarta, akses waze masih bisa ngandelin paket data langganan kita, tapi kalau di negara orang? Data roaming mahal cyiinn. So, untuk negara sekelas Singapore dan Malaysia, manfaatin aja public transportation yang ada seperti MRT, bus, skytrain/monorail. Gampang dan murah. Sebenernya di Thailand pun bisa manfaatin BTS atau MRT, tapi station-nya gak sebanyak Singapore dan Malaysia. Kalau rame-rame kek guw dan temen-temen, bisa manfaatin taksi. Tapi, hati-hati ditembak yaa meternya. Plus, kalau di Thailand, baiknya beli kartu lokal supaya bisa aktifin mobile data. Itu sangat useful, karena kita jadi bisa browsing informasi rute perjalanan, lokasi tempat, dan menerjemahkan alamat tempat ke bahasa Thai. Perlu diingat kalau penduduk Thailand masih minor banget yang bisa atau paham bahasa Inggris. Kartu lokalnya gak mahal kok, harga yang guw bayar kemarin (15 Mei 2015) 230 baht dan udah dipaketin sama internet selama 1 minggu dengan kuota 1,5 GB. Lumayan kan, bisa tetep keep in touch sama orang-orang tercinta, akses google maps dan waze, browsing, dan keknya the most important thing jaman sekarang adalah stay update di media sosial semacam Path, FB, atau Twitter.

Yang perlu dicatat lagi adalah bring your own medicine and private stuffs. Kenapa? Penting banget bawa obat pribadi, apalagi kalau punya penyakit seperti maag. Karena badan kita pasti ada yang cocok-cocokan sama obat. Siapin juga vitamin C atau sejenisnya seperti vitacimin, ini bantu banget buat jaga daya tahan tubuh. Buat yang suka madu, bersyukurlah karena ini juga bagus banget buat jadi temen perjalanan liburan. Nah, sebagai orang Indonesia nih (guw bangga banget jadi orang Indonesia) kita punya obat yang namanya reject wind alias Tolak Angin, ini juga perlu banget deh dibawa. Perlengkapan mandi kek macem sabun, sikat gigi, pasta gigi, sabun muka, bahkan handuk dan wet tissue. Just in case kalau dapet penginapan zonk yang gak nyiapin perlengkapan mandi atau handuknya kusam alias meragukan. Itu kejadian soalnya sama guw dan temen-temen waktu nginep disalah satu hotel di Malaysia, daerah Bukit Bintang.

Catatan terakhir yang gak kalah penting dari pengalaman trip tiga negara guw dan temen-temen ini adalah, make sure bawa tas travel yang praktis dan ribet, baik sling bag maupun backpack. Yang penting bisa masuk dompet, card holderpassport casetumbler, pulpen, dan tisu (basah dan kering). Males juga kan kalau harus ngubek-ngubek isi tas cuma buat nyari dompet atau passport?

Nah, itu catatan perjalanan yang menurut guw penting banget buat diinget selama pengalaman trip tiga negara kemarin. By the way, tiga negara yang guw maksud adalah Singapore, Malaysia, dan Thailand. Untuk detail perjalanannya akan dibahas di chapter berikutnya. Wait and see ya 😉