Ada Cinta di SekoCi

Film Ada Apa Dengan Cinta 2 boleh jadi hits di kalangan masyarakat beberapa waktu ini. Film ini cukup menarik perhatian gue juga. Well, we won’t talk about it. Kenapa? Karena gue lebih tersentuh sama sebuah cinta kasih kakak-beradik di SekoCi beberapa waktu lalu.

image

Apa itu SekoCi? SekoCi merupakan singkatan dari Sekolah Kolong Cikini. Sekolah ini merupakan taman belajar bagi anak-anak jalanan, baik yang mengikuti pendidikan formal maupun tidak, di sekitar Cikini, Jakarta. Di taman belajar ini, para pengajar  mengajarkan anak-anak membaca, menulis, dan berhitung yang terbagi menjadi dua kelompok. Uniknya, tidak ada penyebutan kata kelas di taman belajar ini, melainkan Perahu A dan Perahu B.

Jadi begini, sebelum berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah ini, gue pribadi sama sekali gak tahu-menahu soal SekoCi. Salah satu teman gue dari Kelas Inspirasi Jakarta lalu lah yang sharing info soal sekolah ini. Karena itulah gue dapat sedikit pencerahan mengenai SekoCi.

Lantas, kenapa SekoCi? Ternyata awal mulanya para relawan guru yag masih muda-muda tapi punya jiwa peduli pendidikan yang gak sembarangan ini mengajar beberapa anak jalanan tepat di kolong jembatan di seberang KFC Cikini. Semakin bertambahnya jumlah anak-anak yang ikut belajar, para relawan mulai mencari tempat belajar yang lebih baik dan nyaman dengan dukungan fasilitas belajar yang cukup baik. Akhirnya, sebuah taman terdekat dari kolong jembatan menjadi alternatif tempat belajar pada saat cuaca cerah. Sedangkan tempat belajar di kolong jembatan hanya digunakan pada saat hujan. Inilah asal dari nama Sekolah Kolong Cikini atau yang lebih dikenal sebagai SekoCi.

image

Kelompok 17 dari Kelas Inspirasi Jakarta 5 lalu merupakan sekumpulan relawan luar biasa buat gue. Karena kelompok ini sepakat untuk tetap menjaga silaturahmi dan pertemanan ini dengan melakukan atau mengisi kegiatan-kegiatan positif selepas Hari Refleksi berakhir. Kesepakatan inilah yang membawa gue dan geng 17, begitu gue menyebutnya, ke SekoCi atas bantuan Kak Dela selaku fasilitator. Kami berkesempatan untuk mengenalkan ragam profesi kepada adik-adik SekoCi yang kelak dapat mereka tekuni.

image

Ada apa di SekoCi? Jawabannya adalah keceriaan, tantangan, dan cinta. Ya, ada cinta disana. Bukan sebuah cinta muda-mudi, melainkan cinta seorang kakak kepada adiknya. Sebuah keceriaan dan tantangan mengajar anak-anak tentu akan selalu ada, tapi kisah cinta begitu tulus?

Berkesempatan mengunjungi dan membantu rekan-rekan pengajar SekoCi tidak hanya membawa pengalaman mengajar dan bersosialisasi yang baru buat gue, tapi juga mengajarkan gue nilai-nilai kehidupan yang nampak sepele tapi begitu berarti dan kadang kerap terlupakan atau diabaikan.

Yang akan gue ceritakan disini adalah kisah cinta manis dan menyentuh dari seorang anak perempuan, sebut saja ia Aya, dan adik kecilnya, sebut saja ia Fia. Selain itu, sedikit nilai-nilai kehidupan yang gue dapat dan jadi pengingat, paling gak bagi gue pribadi.

image

Jadi begini, Aya adalah salah satu murid yang ada di Perahu A. Kebetulan gue kebagian tugas menyapa anak-anak di Perahu B (anak-anak usia sekitar 6-10 tahun kalau gue gak salah. Maklum, ingatan 3 detik!) Hal yang menarik perhatian gue adalah fakta bahwa Aya belajar ditemani sang adik, Fia. Padahal, saat itu hujan turun rintik-rintik.

How did I know that was Aya’s little sister (by little sister, I mean a not-so-baby girl)? Mendekati akhir sesi belajar yang dibawakan dengan menyenangkan oleh Kak Ewin, gue ikut nimbrung mereka bermain-belajar mengenal kosakata bahasa Inggris. Yang membuat gue heran adalah Kak Ewin menggendong seorang anak bayi (sejujurnya gue gak tau berapa umur anak batita ini. Mungkin maksimal sekitar 1 tahun). Akhirnya gue ambil alih anak tersebut dari tangan Kak Ewin supaya closing session bisa berjalan lebih lancar dan seru. Sambil menggendong adik Aya gue coba mengajak anak-anak lain yang gak fokus ikut sesi kakak Ewin untuk nanya soal Fia. Setelah sekian menit gue baru tahu dari mereka bahwa namanya Fia.

image

Setelah sesi Kak Ewin selesai gue memutuskan untuk mengembalikan Fia yang mulai rewel ke tangan Aya. Belakangan gue yang penasaran akhirnya bertanya ke Kak Ewin tentang awal mula dia bisa menggendong Fia. Jawaban Kak Ewin cukup di luar perkiraan gue. Mengejutkan dan mengharukan. Kalau kata anak jaman sekarang, “Gue jadi baper.”

“Di awal sesi aku tanya sama Aya, itu siapa? Dia bilang ini adik aku. Terus, aku bilang lagi, nanti repot dan capek ikut sesi kakak sambil gendong adikmu. Sini kakak bantu gendong adik kecilnya, biar kamu fokus.” Kira-kira begitu kata kak Ewin. Berdasarkan informasi dari anak-anak SekoCi pula, Aya memang terbiasa datang sekolah sambil membawa adiknya. Ia belajar sekaligus menjaga sang adik.

Kala itu, setiap sesi menuntut anak-anak berpartisipasi aktif, kerap kali kakak pengajar mengajak mereka berdiri atau duduk. Pada saat itu, Aya akan duduk sambil memangku Fia, dan akan berdiri sambil menggendong Fia.

Tak pernah terpikir ada anak yang belajar di sebuah taman belajar sambil menjaga adiknya, menggendong, memangku, bahkan menenangkan saat rewel. Ya, mungkin jarang ada yang membayangkan hal tersebut. Tapi fakta berbicara demikian adanya, dan mereka begitu santai dan bahagia dalam menjalankannya seolah bukan suatu hal yang merepotkan. Kita? Sudah bersyukur bisa belajar di sekolah yang baik tanpa harus repot memboyong adik ke dalam kelas?  🙂

Hal yang mengejutkan, namun sebenarnya tidak terlalu mengherankan adalah, semua anak mengenal Fia dengan baik dan begitu senang mengajak Fia bermain. Sedangkan hal yang membuat gue tersentuh adalah saat gue mengembalikan Fia kepada Aya. Fia yang mulai merengek langsung mengulurkan tangannya saat melihat Aya seolah berkata, “Aku mau sama Kakak Aya.” Lalu Aya? Aya dengan senyum tulus langsung menyambut Fia dengan menggendongnya seraya berkata, “Sini dek. Lama ya nunggu Kakak belajar. Sini sama kakak.”

Gue mungkin gak terlalu paham soal ikatan persaudaraan mengingat gue anak semata wayang. Tapi melihat moment singkat itu gue terkejut dan ikut seneng. Seringkali gue nemuin adik-kakak yang hubungannya renggang atau kurang peduli satu sama lainnya. Betapa gue salut sama Aya, selain memiliki minat belajar yang besar, disaat yang bersamaan ia sangat berbesar hati sambil turut menjaga Fia. To me, this is the purest love story ever.

Tak sedikit generasi muda yang memiliki kesempatan belajar sampai harus di sekolah  mahal, hanya untuk sekedar bergaya karena orang tua mampu. Tak jarang pula kakak yang kerap kali tidak mau direpotkan oleh adiknya sendiri bahkan pada saat bermain. Kuncinya adalah gigih dan tulus.

image

A very special thanks to SekoCi for such an opportunity. Thanks to Kak Ajeng selaku koordinator SekoCi dan Kak Dela yang sudah memfasilitasi gue dan kawan-kawan untuk mengisi waktu di Perahu A dan Perahu B. Semoga sarana dan prasarana taman belajar SekoCi dapat terus meningkat lebih baik lagi bagi anak-anak.

Photo credit by: Ferry Kurniawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s